
Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk melumpuhkan program nuklir dan rudal balistik Iran, yang selama ini dituding digunakan untuk tujuan militer.
Namun, Iran merespons dengan cepat dan keras, meluncurkan ratusan rudal balasan ke wilayah Israel, termasuk ke Tel Aviv dan Haifa.
Serangan balik Iran ini memicu eskalasi konflik selama hampir dua pekan, yang oleh banyak pengamat kemudian dijuluki sebagai “Perang 12 Hari”.
Israel vs Iran: Konflik yang Tak Kunjung Padam
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berdalih bahwa serangan tersebut merupakan langkah preventif untuk menghentikan ambisi senjata nuklir Teheran.
Israel dan sejumlah negara Barat memang kerap menuduh Iran menyembunyikan pengembangan senjata nuklir di balik program energi sipil.
Iran sendiri telah berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, yakni untuk energi dan penelitian medis.
Meski demikian, ketegangan antara kedua negara terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan insiden-insiden militer seperti ini menjadi pemicu baru.
Misi Gagal yang Nyaris Menjadi Krisis Internasional
Insiden kerusakan jet tempur F-15 Israel ini menunjukkan betapa rawannya operasi militer jarak jauh, terutama ketika dilakukan secara unilateral dan mendadak.
Seandainya pesawat tersebut harus mendarat darurat di negara ketiga atau jatuh di Iran, konsekuensinya bisa jauh lebih besar—bukan hanya eskalasi militer, tapi juga krisis diplomatik global.
Untuk saat ini, konflik terbuka antara Iran dan Israel kembali mereda, meskipun ketegangan tetap tinggi dan ancaman saling serang masih membayangi kawasan Timur Tengah.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















