
Sayangnya, laporan tersebut tidak menyebutkan secara jelas siapa yang mengatakan pernyataan itu, apakah kapten atau kopilot, dan juga tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan seruan darurat “Mayday, Mayday, Mayday” sebelum kecelakaan terjadi.
Di tempat kejadian, kedua sakelar bahan bakar ditemukan dalam posisi “run”, dan laporan itu menunjukkan bahwa kemungkinan kedua mesin sempat aktif kembali sebelum pesawat jatuh di ketinggian rendah.
Kedua pilot yang menerbangkan pesawat adalah penerbang berpengalaman, dengan jumlah jam terbang mencapai sekitar 19.000 jam, termasuk lebih dari 9.000 jam di jenis pesawat Boeing 787.
Anthony Brickhouse, pakar keselamatan penerbangan dari AS, mengatakan fokus utama penyelidikan adalah mencari tahu alasan perpindahan sakelar yang tak sesuai prosedur standar.
“Apakah sakelar tersebut bergerak sendiri atau karena pilot. Dan jika dipindahkan karena pilot, mengapa,” ujarnya.
Senada dengan itu, pakar lainnya yakni John Cox berpendapat bahwa kecil kemungkinan seorang pilot memindahkan sakelar bahan bakar secara tidak sengaja.
Ia menambahkan bahwa memindahkan sakelar ke posisi “cut-off” akan langsung mematikan mesin, dan prosedur itu biasanya digunakan saat pesawat tiba di gerbang atau dalam kondisi darurat seperti kebakaran mesin. (mg1)
Sumber: detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















