
Lebih dari 75 persen warga Lebanon kini hidup di bawah garis kemiskinan. Harga kebutuhan pokok naik berkali-kali lipat. Banyak toko yang kini mencantumkan dua harga untuk satu barang: satu dalam lira, satu lagi dalam dolar.
Fenomena ini menciptakan proses yang dikenal sebagai dollarisasi. Tak hanya barang impor yang dijual dalam dolar, gaji, biaya sewa rumah, hingga tarif jasa pun kini lebih sering dihitung dalam mata uang asing. Lira hanya digunakan karena tidak ada pilihan lain.
“Kami sudah tidak lagi punya kedaulatan dalam urusan moneter,” ungkap seorang profesor ekonomi dari Universitas Amerika di Beirut. “Jika rakyat lebih percaya pada mata uang asing dibanding mata uang negara sendiri, itu pertanda bahwa negara sudah kehilangan kendali.(mg2)
Sumber: merdeka.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















