
Temuan arkeologis dari era Ptolemaik sekitar tahun 200 SM mengungkap bangunan besar dengan lantai dari plester kapur dan pilar-pilar berlapis stucco yang megah. Struktur ini berdiri di atas jalan prosesi yang dulunya terhubung langsung ke kuil Wadjet. Keberadaan bangunan tersebut mengindikasikan bahwa pengaruh Wadjet sebagai dewi pelindung mulai menurun pada masa itu. Hal ini sekaligus menjadi petunjuk akan perubahan dalam peta keagamaan Mesir kuno.
Kuil Wadjet sendiri sempat direnovasi oleh Ramses II pada pertengahan abad ke-13 SM dan kemudian oleh Ahmose II sekitar abad ke-6 SM. Namun, setelah periode tersebut, aktivitas religius di sekitar kuil mulai berkurang.
Identitas spiritual masa lalu Imet kini semakin tergambar jelas lewat temuan artefak-artefak religius seperti ushabti dari faience hijau (patung pemakaman dari keramik) yang berasal dari Dinasti ke-26, stela dewa Harpocrates (versi Yunani dari Horus Anak) yang berdiri di atas dua buaya sambil menggenggam ular, serta sistrum perunggu, alat musik religius yang dihiasi dengan kepala dewi Hathor, simbol musik dan kebahagiaan.
“Penemuan ini memberi wawasan baru tentang kehidupan sehari-hari, sistem kepercayaan, serta perencanaan kota di wilayah Delta Nil,” ungkap Nielsen. “Imet kini menjadi situs penting dalam upaya meninjau kembali arkeologi Mesir pada masa Periode Akhir.”(mg2)
Sumber: merdeka.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















