
“Kalau ini terus berlanjut, kelekatan emosional anak terhadap manusia bisa menurun. Dalam jangka panjang, ini mengganggu perkembangan empati, kasih sayang, dan keterampilan membangun hubungan interpersonal,” tutur Annisa.
Lebih dari itu, desain AI yang terlalu menyerupai manusia justru menyimpan potensi manipulasi emosional. Beberapa sistem bahkan sengaja dirancang untuk membangun ikatan emosional demi kepentingan komersial.
“Interaksi yang terasa akrab bisa dimanfaatkan untuk mendorong perilaku tertentu, misalnya konsumsi, loyalitas terhadap produk, bahkan pola pikir yang menguntungkan pihak tertentu,” tegasnya.
Kembali ke Rumah: Peran Orang Tua yang Tak Tergantikan
Annisa mengingatkan bahwa AI tidak bisa menggantikan kehadiran emosional orang tua. Ketika anak tidak mendapatkan perhatian dan kelekatan emosional yang cukup di rumah, mereka akan mencari di tempat lain—termasuk ke teknologi yang tidak memiliki hati.
“Anak-anak tidak membutuhkan teknologi secanggih apapun jika kebutuhan emosional mereka terpenuhi di rumah,” tegasnya.
Orang tua diminta untuk lebih aktif membangun komunikasi yang hangat dan terbuka. Tak harus rumit, cukup mulai dengan pertanyaan sederhana: “Kamu sedih hari ini?” atau “Apa yang bikin kamu senang minggu ini?”—dan yang paling penting, dengarkan tanpa menghakimi atau langsung memberi nasihat.
Ketergantungan anak pada chatbot AI bukan hanya persoalan teknologi, tapi alarm yang menyuarakan kekosongan emosional di lingkungan keluarga.
Orang tua adalah garda terdepan dalam membentuk ketahanan emosional anak. Koneksi yang hangat, perhatian yang tulus, dan komunikasi yang terbuka jauh lebih bernilai dibanding kecanggihan teknologi manapun.
Sudahkah Anda menyapa anak Anda hari ini?***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















