Arogansi Raja Kediri Kertajaya dan Lahirnya Singasari: Ketika Kesombongan Berujung Petaka

Raja Kediri Kertajaya
Ilustrasi Raja Kediri Kertajaya. (Istimewa)

BOGORTODAY.COM – Sikap arogan Raja Kediri Kertajaya yang menuntut rakyat dan pemuka agama untuk menyembahnya layaknya Tuhan, menjadi awal dari keruntuhan kerajaannya sendiri.

Keputusan itu tidak hanya menuai kecaman, tetapi juga memicu eksodus besar-besaran kaum Brahmana dari Kediri, menandai awal kehancuran sebuah dinasti.

Ketika Raja Menistakan Agama

Keinginan Kertajaya untuk dipuja layaknya dewa membuatnya kehilangan kepercayaan dari kaum spiritual. Ia bahkan menghukum mati para Brahmana yang menolak menuruti perintah tersebut.

BACA JUGA :  Benarkah Sifat Anak Lebih Banyak Turun dari Ibu atau Ayah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Langkah represif ini mengguncang fondasi moral dan keagamaan kerajaan, sekaligus memicu krisis politik yang tak terbendung.

Pelarian Brahmana ke Tumapel: Bertemu Pelindung Sejati

Para Brahmana yang terusir akhirnya mengungsi ke Tumapel, wilayah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Ken Arok, seorang pemimpin muda dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi.

Dikenal menjunjung tinggi nilai spiritual karena pernah berguru pada Tantripala dan Lohgawe, Ken Arok menerima mereka dengan tangan terbuka.

BACA JUGA :  Pemerintah Kucurkan Rp4 Triliun untuk Benahi Perlintasan Sebidang

Sebagai bentuk penghormatan, para Brahmana menganugerahkan gelar Batara Guru kepada Ken Arok, mengangkatnya sebagai titisan Dewa Syiwa. Gelar ini menjadi simbol dukungan moral dan spiritual untuk memimpin perlawanan terhadap Kertajaya.

Revolusi Rakyat dan Peperangan Genter

Dukungan para Brahmana tak hanya memperkuat legitimasi Ken Arok, tapi juga membangkitkan semangat perlawanan rakyat Kediri.

Dengan dalih menegakkan kembali ajaran suci Hindu, para Brahmana menyerukan pembangkangan terhadap Kertajaya.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================