BOGORTODAY.COM – Sikap arogan Raja Kediri Kertajaya yang menuntut rakyat dan pemuka agama untuk menyembahnya layaknya Tuhan, menjadi awal dari keruntuhan kerajaannya sendiri.
Keputusan itu tidak hanya menuai kecaman, tetapi juga memicu eksodus besar-besaran kaum Brahmana dari Kediri, menandai awal kehancuran sebuah dinasti.
Ketika Raja Menistakan Agama
Keinginan Kertajaya untuk dipuja layaknya dewa membuatnya kehilangan kepercayaan dari kaum spiritual. Ia bahkan menghukum mati para Brahmana yang menolak menuruti perintah tersebut.
Langkah represif ini mengguncang fondasi moral dan keagamaan kerajaan, sekaligus memicu krisis politik yang tak terbendung.
Pelarian Brahmana ke Tumapel: Bertemu Pelindung Sejati
Para Brahmana yang terusir akhirnya mengungsi ke Tumapel, wilayah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Ken Arok, seorang pemimpin muda dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi.
Dikenal menjunjung tinggi nilai spiritual karena pernah berguru pada Tantripala dan Lohgawe, Ken Arok menerima mereka dengan tangan terbuka.
Sebagai bentuk penghormatan, para Brahmana menganugerahkan gelar Batara Guru kepada Ken Arok, mengangkatnya sebagai titisan Dewa Syiwa. Gelar ini menjadi simbol dukungan moral dan spiritual untuk memimpin perlawanan terhadap Kertajaya.
Revolusi Rakyat dan Peperangan Genter
Dukungan para Brahmana tak hanya memperkuat legitimasi Ken Arok, tapi juga membangkitkan semangat perlawanan rakyat Kediri.
Dengan dalih menegakkan kembali ajaran suci Hindu, para Brahmana menyerukan pembangkangan terhadap Kertajaya.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















