
Meskipun Presiden Trump mengklaim Jepang mulai membuka diri terhadap kendaraan buatan AS, Blunt menilai hambatan teknis, seperti sertifikasi, selera konsumen lokal, dan keterbatasan jaringan dealer tetap membuat pasar Jepang sulit ditembus.
Mobil AS Tidak Cocok untuk Jalanan Jepang?
Pendapat lebih kritis datang dari Justin Wolfers, profesor ekonomi dari Universitas Michigan. Ia menilai masalah mendasar bukan hanya tarif atau proteksi pasar, tetapi juga ketidaksesuaian kendaraan buatan AS dengan kondisi geografis dan budaya berkendara di Jepang.
“Kalau Anda ke Tokyo, mobil-mobilnya kecil dan jalanannya sempit. Mereka tidak mengendarai mobil Amerika karena tidak memenuhi kebutuhan Jepang,” jelas Wolfers.
Perbandingan dengan Inggris: Tarif Rendah Mobil Mewah
Blunt juga membandingkan dengan kesepakatan dagang AS-Inggris, di mana sejumlah mobil mewah Inggris hanya dikenakan tarif 10%. Ia memperingatkan agar praktik-praktik seperti ini tidak menjadi preseden dalam negosiasi perdagangan internasional ke depan, karena dinilai melemahkan daya saing industri dalam negeri sendiri.
Kesepakatan dagang AS-Jepang terbaru memunculkan perdebatan panas di dalam negeri AS. Di satu sisi, tarif impor 15% terhadap mobil Jepang dianggap sebagai bentuk keterbukaan.
Namun di sisi lain, ketimpangan tarif dengan produk dari Meksiko dan Kanada, serta minimnya kandungan buatan AS pada mobil Jepang, memunculkan kekhawatiran besar di kalangan produsen otomotif domestik.
Kritik ini menggambarkan tantangan nyata dalam menyeimbangkan kepentingan geopolitik, akses pasar global, dan perlindungan industri lokal di era perdagangan bebas yang makin kompleks.
Sumber: detikcom
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















