
Dalam suasana duka itu, putri Ali, Ummu Kultsum, berteriak penuh amarah dan kesedihan kepada pelaku:
“Wahai musuh Allah! Ayahku pasti akan baik-baik saja dan Allah akan menghinakanmu!”
Namun Ibnu Muljam justru membalas dengan keji, mengaku bangga karena berhasil menikam Ali dengan pedang mahal dan racun yang mematikan.
Upaya Pengobatan yang Gagal
Ali segera dirawat oleh para tabib terbaik. Salah satunya adalah Atsir ibn ‘Amr Al-Sukuni dari Kirsi. Ia menggunakan teknik medis tradisional, dengan bantuan urat dari paru-paru kambing untuk memeriksa kedalaman luka.
Namun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tebasan pedang telah menembus ke bagian otak. Atsir pun menyimpulkan bahwa nyawa Ali bin Abi Thalib tidak dapat diselamatkan.
Wafatnya Sang Pemimpin Adil
Ali bin Abi Thalib akhirnya wafat sebagai syahid pada usia sekitar 63 tahun, tepatnya 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah.
Beliau dimakamkan secara sembunyi-sembunyi demi mencegah fitnah lebih lanjut. Makamnya diyakini berada di Najaf, Irak, meski lokasi pastinya tetap menjadi misteri hingga kini.
Ali meninggalkan warisan luar biasa: 33 anak, terdiri dari 15 laki-laki dan 18 perempuan. Di antara mereka, Hasan dan Husein RA dikenal sebagai pemuda penghulu surga.
Wafatnya Ali bin Abi Thalib RA merupakan tragedi besar dalam sejarah Islam. Namun lebih dari itu, hidup dan perjuangannya menjadi pelajaran penting tentang keimanan, keberanian, keadilan, dan kesetiaan terhadap ajaran Rasulullah SAW.
Ia adalah simbol kepemimpinan yang jujur di tengah badai fitnah, dan sampai hari ini tetap menjadi sosok teladan bagi seluruh umat Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa merahmati dan menempatkan Ali bin Abi Thalib RA di tempat terbaik di sisi-Nya.***
Sumber: detikcom
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















