BOGORTODAY.COM – Pada abad ke-13, ketika kekuasaan Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan meluas ke seluruh Asia, hanya sedikit kerajaan yang berani menolak tunduk. Namun, Raja Kertanagara dari Kerajaan Singasari di Jawa adalah pengecualian yang mencolok.
Ia dengan tegas menolak perintah tunduk dari kekaisaran terbesar pada masa itu, sebuah keputusan yang memicu ekspedisi militer besar-besaran dari tentara Tartar ke wilayah Nusantara pada tahun 1292.
Ambisi Kubilai Khan dan Posisi Strategis Singasari
Kubilai Khan, cucu dari Jenghis Khan, dikenal sebagai pemimpin ambisius yang berupaya memperluas kekuasaannya hingga ke pelosok Asia.
Setelah menguasai Jepang, Korea, dan wilayah selatan Tiongkok, ia membidik Selat Malaka, jalur dagang strategis yang saat itu berada di bawah pengaruh Kerajaan Singasari.
Melalui pelabuhan penting di Jambi, Singasari mengendalikan akses pelayaran dan perdagangan internasional di kawasan tersebut.
Posisi ini menjadikan kerajaan yang dipimpin oleh Kertanagara sebagai penghalang langsung terhadap ekspansi Mongol di Asia Tenggara.
Strategi Politik Kertanagara: Bukan Sekadar Budaya
Pada tahun 1286, Raja Kertanagara mengirim arca Amoghapāśa ke Kerajaan Melayu. Meski tampak sebagai bentuk diplomasi budaya dan penyebaran agama Buddha, langkah ini memiliki makna lebih dalam.
Sejarawan Prof Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama menyebut pengiriman arca tersebut sebagai strategi menghalangi ambisi kekuasaan Mongol di Nusantara.
“Raja Kertanagara ingin mencegah menjalarnya kekuasaan Kubilai di daerah Nusantara,” tulis Slamet Muljana.
Utusan Mongol Dihina, Kubilai Khan Murka
Pada 1289, Kubilai Khan mengirim utusan bernama Meng Ki untuk meminta Singasari tunduk pada kekuasaan Kekaisaran Mongol. Namun, Raja Kertanagara menolak mentah-mentah permintaan tersebut.
Bahkan, dalam bentuk penghinaan terang-terangan, utusan tersebut dipermalukan.
“Meng Ki disuruh pulang dengan pesan yang ditulis di atas dahinya,” ungkap Slamet Muljana.
Tindakan ini menyulut kemarahan Kubilai Khan. Sebagai balasannya, ia mempersiapkan pasukan perang dari Mongolia untuk menginvasi Jawa — sebuah ekspedisi militer yang akhirnya terjadi pada 1292.
Ekspedisi Tartar ke Jawa: Misi Pembalasan, Bukan Undangan
Sejumlah sumber sejarah seperti Kakawin Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsa Wijaya, dan Panji Wijayakrama menyebutkan bahwa ekspedisi tentara Tartar ke Jawa bukan karena undangan Raden Wijaya atau Adipati Wiraraja, seperti yang kerap disalahartikan.
“Mereka datang di Jawa untuk menghukum Raja Kertanagara atas penghinaan terhadapnya,” tulis Slamet Muljana.
Warisan Perlawanan Kertanagara
Meski pada saat ekspedisi tersebut Kertanagara telah wafat akibat pemberontakan Jayakatwang, penolakannya terhadap dominasi asing tetap tercatat sebagai peristiwa penting dalam sejarah Asia Tenggara.
Langkah berani Kertanagara membuktikan bahwa kerajaan di Nusantara mampu berdiri tegak melawan kekuatan global.
Ia mempertahankan martabat, kedaulatan, dan identitas budaya bangsanya dari tekanan kekuatan asing yang begitu besar.
Penolakan Kertanagara terhadap Kubilai Khan adalah simbol keberanian dan kedaulatan politik kerajaan Nusantara di tengah gelombang ekspansi kekaisaran Mongol.
Keputusan tersebut menjadi tonggak sejarah yang membentuk semangat perlawanan terhadap dominasi luar — sebuah warisan yang terus dikenang dalam perjalanan sejarah Indonesia.***
Sumber: iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















