
Reaksi Internasional dan Potensi Eskalasi
Banyak negara menyerukan gencatan senjata segera. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang saat ini memimpin ASEAN, menyambut baik kesediaan kedua negara untuk berunding. Amerika Serikat, Uni Eropa, Prancis, China, dan Australia juga menyatakan keprihatinan mendalam.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas krisis ini pada Jumat (25/07/25). Sementara itu, hubungan diplomatik Thailand-Kamboja memburuk tajam.
Thailand telah menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan berencana mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok.
Konflik Dipicu Ketegangan Politik
Ketegangan antara kedua negara telah meningkat sejak bulan lalu, ketika mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, membocorkan percakapan sensitif dengan PM Thailand Paetongtarn Shinawatra terkait perbatasan.
Skandal ini memicu krisis politik di Bangkok, yang berujung pada penangguhan jabatan Paetongtarn oleh Mahkamah Konstitusi.
Dalam situasi yang memanas ini, pemerintahan Thailand tidak ingin terlihat lemah, terutama dalam menghadapi Kamboja. Perang kata-kata terus berlanjut, perdagangan lintas batas senilai miliaran dolar lumpuh, dan risiko eskalasi konflik makin besar.
Sejarah Panjang Ketegangan
Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru. Sengketa seputar Kuil Preah Vihear telah memicu berbagai insiden militer sejak 1950-an, termasuk bentrokan bersenjata pada 2008 dan 2011.
Ketegangan politik juga sering menjadi pemantik, seperti kerusuhan 2003 dan polemik atas eksil Thaksin Shinawatra.
Kini, dunia menantikan apakah perundingan di Malaysia bisa menjadi jalan menuju gencatan senjata yang nyata dan mengakhiri siklus konflik berdarah dua negara bertetangga ini.***
Sumber: detikcom
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















