Thailand dan Kamboja Akan Gelar Perundingan di Malaysia Usai Konflik Berdarah di Perbatasan

BOGORTODAY.COM Thailand dan Kamboja sepakat untuk menggelar perundingan damai di Malaysia pada Senin (28/07/25), setelah konflik bersenjata selama empat hari menewaskan sedikitnya 33 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.

Delegasi Thailand dipimpin oleh Pelaksana Tugas Perdana Menteri Phumtham Wechayachai, sementara Kamboja akan diwakili langsung oleh Perdana Menteri Hun Manet.

Pertemuan ini difasilitasi oleh Malaysia menyusul desakan internasional, termasuk dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lewat media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa kedua negara telah menyepakati pertemuan guna mencapai “gencatan senjata dan, pada akhirnya, DAMAI!”

Hun Manet menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menegaskan kepada Trump bahwa Kamboja setuju dengan proposal gencatan senjata segera dan tanpa syarat.

Sementara itu, Thailand menyatakan terbuka terhadap gencatan senjata, namun tetap menuntut adanya komitmen nyata dari pihak Kamboja.

Namun demikian, baku tembak masih terjadi di sepanjang perbatasan hingga Sabtu (26/07/25) malam. Thailand memperingatkan bahwa konflik ini bisa berkembang menjadi perang terbuka, terlebih setelah serangkaian bentrokan hebat terjadi di wilayah perbatasan yang disengketakan.

Ribuan Warga Mengungsi, Puluhan Korban Jiwa

Konflik meletus pada Kamis (24/07/25) dan telah menyebabkan sedikitnya 33 korban jiwa dari kalangan militer dan sipil.

BACA JUGA :  Warga Malasari Antusias Ikut Ngubek Empang di HJB ke-544

Di Provinsi Surin, Thailand, ribuan warga, termasuk anak-anak dan lansia, dievakuasi ke pusat pengungsian. Di pihak Kamboja, sekitar 1.500 keluarga dari Provinsi Oddar Meanchey juga telah dipindahkan.

Warga sipil dari kedua negara mengaku trauma. “Situasinya benar-benar serius. Mereka menembak langsung ke sini,” kata Sutian Phiwchan, warga Buriram, Thailand. “Anak-anak dan semuanya…kami benar-benar ketakutan.”

Saling Tuduh Penyebab Konflik

Versi kronologi konflik berbeda dari masing-masing pihak. Thailand menuduh Kamboja memulai dengan mengirim drone dan pasukan bersenjata berat ke perbatasan, serta melakukan serangan lebih dahulu.

Sebagai respons, militer Thailand mengerahkan enam jet tempur F-16 untuk menyerang target militer Kamboja.

Sebaliknya, Kamboja menyatakan Thailand memulai provokasi dengan serangan udara dan pelanggaran wilayah.

Mereka menuding Thailand melanggar kesepakatan sebelumnya dan menyebut aksi tersebut sebagai “agresi militer ilegal”.

Reaksi Internasional dan Potensi Eskalasi

Banyak negara menyerukan gencatan senjata segera. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang saat ini memimpin ASEAN, menyambut baik kesediaan kedua negara untuk berunding. Amerika Serikat, Uni Eropa, Prancis, China, dan Australia juga menyatakan keprihatinan mendalam.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas krisis ini pada Jumat (25/07/25). Sementara itu, hubungan diplomatik Thailand-Kamboja memburuk tajam.

BACA JUGA :  Momen HJB ke-544, Museum Pajajaran Mulai Dibuka Resmi untuk Umum

Thailand telah menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan berencana mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok.

Konflik Dipicu Ketegangan Politik

Ketegangan antara kedua negara telah meningkat sejak bulan lalu, ketika mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, membocorkan percakapan sensitif dengan PM Thailand Paetongtarn Shinawatra terkait perbatasan.

Skandal ini memicu krisis politik di Bangkok, yang berujung pada penangguhan jabatan Paetongtarn oleh Mahkamah Konstitusi.

Dalam situasi yang memanas ini, pemerintahan Thailand tidak ingin terlihat lemah, terutama dalam menghadapi Kamboja. Perang kata-kata terus berlanjut, perdagangan lintas batas senilai miliaran dolar lumpuh, dan risiko eskalasi konflik makin besar.

Sejarah Panjang Ketegangan

Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru. Sengketa seputar Kuil Preah Vihear telah memicu berbagai insiden militer sejak 1950-an, termasuk bentrokan bersenjata pada 2008 dan 2011.

Ketegangan politik juga sering menjadi pemantik, seperti kerusuhan 2003 dan polemik atas eksil Thaksin Shinawatra.

Kini, dunia menantikan apakah perundingan di Malaysia bisa menjadi jalan menuju gencatan senjata yang nyata dan mengakhiri siklus konflik berdarah dua negara bertetangga ini.***

Sumber: detikcom

Follow dan Baca Artikel lainnyadi Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================