
Meski dihujani tembakan meriam, pasukan Diponegoro mampu bertahan dan mundur ke Desa Gegulu di tepi barat Sungai Progo.
Di sisi Mandung, sekitar 40 orang dilaporkan tewas dalam pertempuran ini. Saat pasukan Mayor Sollewijn tiba di Gegulu, desa tersebut telah dibakar dan ditinggalkan.
Belanda kembali menghadapi perlawanan saat bergerak menuju Desa Kaliwatang. Pertempuran yang terjadi di wilayah ini menyebabkan sekitar 40 pasukan Diponegoro gugur.
Meski gagal menangkap Pangeran Diponegoro, Jenderal de Kock mengklaim berhasil menghancurkan beberapa basis perlawanan di wilayah Yogyakarta.
Setelah dipanggil ke Batavia, posisi de Kock digantikan oleh Jenderal Mayor van Geen, yang tetap menggunakan strategi tiga koloni pasukan untuk menyisir wilayah Ngrajeg dan Jumeneng.
Namun, operasi lanjutan ini juga tidak membuahkan hasil. Diponegoro dan pasukan Mandung yang dipimpin Tumenggung Mertoloyo telah lebih dahulu meninggalkan wilayah pengepungan.
Serangkaian kegagalan pengejaran pada Oktober 1825 memperlihatkan kekuatan taktik gerilya yang diterapkan Diponegoro dan ketangguhan perlawanan lokal terhadap kolonialisme Belanda selama Perang Jawa.***
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















