TKA, Ujian yang Katanya Bukan Ujian

Padahal, jika benar ingin menjadi alat ukur yang adil, maka evaluasi semestinya memperhitungkan latar belakang, kondisi, dan perkembangan tiap murid secara menyeluruh, bukan menyamaratakan melalui tes tunggal berskala nasional.

Lebih jauh lagi, pengaruh TKA pada seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur SNBP juga mengubah wajah seleksi dari yang sebelumnya berbasis proses menjadi berbasis hasil.

Rapor sebagai produk pembelajaran selama tiga tahun mulai kehilangan dominasi. Sebaliknya, satu hari tes mulai mengambil peran besar.

Dalam praktiknya, ini dapat mematikan semangat belajar yang mendalam dan menggantikannya dengan budaya mengejar hasil instan.

Di sisi lain, sekolah dan guru juga akan terdorong untuk kembali melakukan pengajaran berbasis target dan latihan soal.

BACA JUGA :  Manfaat Chili Oil untuk Kesehatan, Lebih dari Sekadar Bumbu Pedas Favorit

Tentu hal ini kontraproduktif dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual, kolaboratif, dan sesuai dengan minat dan kebutuhan murid.

Dengan kata lain, kehadiran TKA justru berpotensi menarik sistem pendidikan kita mundur ke masa lama yang penuh beban dan tekanan standar nasional.

Jika memang TKA dimaksudkan untuk memperkaya pemetaan kemampuan murid secara nasional, maka pendekatannya harus benar-benar formatif, tidak memiliki implikasi selektif, dan tidak menjadi alat pembanding antar sekolah.

Namun apabila pada kenyataannya hasil TKA dijadikan dasar tambahan untuk seleksi SNBP, maka pemerintah seharusnya jujur menyebut TKA sebagai alat seleksi.

BACA JUGA :  Ilmuwan Ungkap Afrika Berpotensi Terbelah, Retakan Raksasa Bisa Picu Samudra Baru

Sebab yang membuat kebijakan tidak mencemaskan bukan hanya namanya, melainkan transparansi fungsinya dan keadilan dalam penerapannya.

Pada akhirnya, publik tidak menginginkan kebijakan baru yang justru mengulang tekanan lama. Pendidikan yang manusiawi membutuhkan sistem evaluasi yang berpihak pada proses, bukan hasil sesaat.

Sehingga pendikan mestinya mampu mengakui keberagaman, bukan memaksa keseragaman. Selain itu juga memberi ruang bagi semua anak untuk tumbuh, bukan hanya menyaring yang tercepat dan terkuat.

Bila pendidikan adalah jalan menuju kemajuan bangsa, maka sistemnya harus dibangun di atas prinsip keadilan, bukan kompetisi yang menyamar dalam nama evaluasi.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================