
Hari itu, Firman hanya mengantongi Rp35.000 dari hasil penjualan 30-40 layangan. Ia menjual berbagai jenis seperti Jabrug polos dan motif, Seot, hingga Sukhoi. Tak hanya layangan, ia juga menyediakan perlengkapan seperti benang dan kenur.
“Setiap jenis kualitasnya beda, dari bambu sampai kertasnya. Ada yang pakai kertas tisu, ada juga yang kertas biasa,” jelasnya.
Firman biasa mengambil stok dari agen di Pasar Anyar, Bogor. Namun belakangan ini ia kesulitan mendapat pasokan dalam jumlah besar.
“Saya biasanya beli per ikat isi 50 pcs seharga Rp125.000. Tapi sekarang stoknya dibatasi sama agen karena banyak yang jualan juga,” tuturnya.
Meski keuntungan dari penjualan tidak selalu besar, Firman tetap bertahan. Perbedaan harga beli dan jual yang tipis membuatnya harus pandai menghitung untung rugi.
“Kalau Jabrug polos saya beli Rp1.500, jual Rp2.000. Ya untungnya tipis, Rp500 per pcs. Tapi kalau Jabrug motif, beli Rp2.500, saya jual juga Rp2.500. Itu antara rugi dan gak rugi,” ujarnya, sembari tertawa kecil. (Mg1/Mg2)
Editor : Bas
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














