
Ikatan Nusantara Lewat Perkawinan Politik
Salah satu ekspedisi penting di era Singhasari adalah Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Raja Kertanagara.
Ia mengirim Patung Amoghapasa ke Kerajaan Dharmasraya (di wilayah Sumatera) sebagai simbol persahabatan. Sebagai balasan, Raja Dharmasraya mengirim dua putrinya—Dara Jingga dan Dara Petak—ke Jawa.
Dara Petak kemudian menikah dengan Raden Wijaya, yang pada waktu itu telah mendirikan Majapahit. Dengan demikian, Raden Wijaya memiliki ikatan darah dengan kerajaan-kerajaan besar: Sunda, Singhasari, dan Dharmasraya.
Hal ini menegaskan bahwa sebelum terjadinya Perang Bubat, ada semangat persatuan dan integrasi di antara kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Sebelum Tragedi di Bubat
Semua bukti sejarah ini menunjukkan bahwa hubungan antara Kerajaan Sunda dan Majapahit tidak selalu didominasi oleh konflik.
Justru sebelum Perang Bubat, relasi keduanya dibangun atas dasar kekeluargaan, saling percaya, dan visi kebesaran Nusantara.
Sayangnya, konflik politik dan kesalahpahaman di Bubat merusak hubungan yang sebelumnya sangat harmonis.
Tragedi Bubat bukanlah awal dari permusuhan, melainkan akhir dari sebuah masa keemasan hubungan dua kerajaan besar.
Momen-momen mesra dalam sejarah ini layak untuk diangkat kembali, sebagai pengingat bahwa kebesaran Nusantara pernah tumbuh dari persatuan, bukan permusuhan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















