
Ia mengungkapkan, beberapa temuan penting pun mulai terungkap. Banyak PAUD dan TK mengalami keterbatasan pada fasilitas bermain dan sanitasi.
Di sisi lain, SD dan SMP menghadapi tantangan seperti kekurangan guru mata pelajaran, keterbatasan alat pembelajaran, hingga belum memadainya jaringan internet dan ruang laboratorium.
“Yang membedakan program ini adalah pendekatannya yang partisipatif dan berbasis komunitas. Perangkat desa dan tokoh masyarakat dilibatkan dalam proses validasi data, menjadikannya sebagai mitra aktif, bukan hanya objek pembangunan,” ungkapnya.
Sri melanjutkan, seluruh data yang terkumpul akan diolah melalui platform digital berbasis daring, untuk memastikan proses pengelolaan data yang terbuka dan dapat diakses oleh pemangku kepentingan terkait, termasuk Dinas Pendidikan.
“Kredibilitas data sangat penting. Kami ingin data ini benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan sehingga menjadi dasar kebijakan yang berpihak,” kata Sri.
Ia menambahkan, dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan keadilan, INJAK KAKI diharapkan menjadi contoh praktik baik yang dapat ditiru kecamatan lain di Kabupaten Bogor.
Sebab pendidikan yang merata dan berkualitas tak bisa dibangun hanya dengan niat baik, tapi harus dimulai dari data yang akurat dan tindakan nyata.***
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Diskominfo Kabupaten Bogor
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















