
Filolog Belanda Johannes Gijsbertus de Casparis menghubungkan keberadaan Wangsa Sailendra dengan istilah Waranarādhirājarāja dalam Prasasti Kelurak dan situs Candi Plaosan Lor.
Ia meyakini raja dari Fu-nan (Na-fu-na) menaklukkan keturunan Sañjaya, penguasa lokal penganut Siwa, dan memunculkan dua wangsa berbeda di Jawa: Sailendra (Buddha Mahayana) dan Sañjaya (Siwa).
Prasasti Kalasan juga menyebut dua penguasa: Permata Wangsa Sailendra dan Rakai Panangkaran dari Wangsa Sañjaya, yang disebut sebagai bawahan.
Pendapat berbeda datang dari filolog Indonesia Poerbatjaraka, yang meyakini Wangsa Sailendra merupakan trah lokal. Ia berpendapat wangsa ini awalnya menganut Siwa, lalu berpindah ke Buddha Mahayana.
Persaingan ideologis dan politik antara Wangsa Sailendra dan Sañjaya tergambar dari berbagai prasasti serta peninggalan arkeologis.
Sailendra dikenal sebagai pembangun Candi Borobudur, simbol kejayaan Buddha Mahayana, sedangkan Sañjaya tetap eksis sebagai penganut Siwa.
Asal usul Wangsa Sailendra masih menjadi perdebatan hingga kini. Meskipun belum terjawab secara pasti, dinasti ini diakui memiliki peran penting dalam sejarah klasik Nusantara serta warisan budaya dunia.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















