Korea Selatan Copot Speaker Propaganda di Perbatasan, Upaya Redakan Ketegangan dengan Korea Utara

BOGORTODAY.COM – Pemerintah Korea Selatan mulai mencopot pengeras suara propaganda di sepanjang zona demiliterisasi (DMZ) yang berbatasan langsung dengan Korea Utara.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dengan negara tetangganya, seiring dengan perubahan kebijakan luar negeri di bawah kepemimpinan Presiden baru, Lee Jae Myung.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Lee Kyung Ho, pada Senin (4/8/2025) menyampaikan bahwa pencopotan speaker tersebut dilakukan setelah kedua negara menghentikan saling siaran propaganda sejak terpilihnya Presiden Lee dalam pemilu awal Juni lalu.

“Mulai hari ini, militer telah mulai mencopot pengeras suara,” ujar Lee Kyung Ho kepada awak media. “Ini adalah langkah praktis untuk membantu meredakan ketegangan dengan Korea Utara, asalkan tindakan tersebut tidak membahayakan kesiapan militer.”

Speaker-speaker tersebut sebelumnya digunakan untuk menyiarkan berita dan lagu-lagu K-pop ke wilayah Korea Utara sebagai bagian dari perang psikologis. Sebagai respons, Korea Utara selama ini menyiarkan suara-suara misterius yang mengganggu warga di wilayah perbatasan Korea Selatan.

BACA JUGA :  Beasiswa AGRTPS 2026 Resmi Dibuka, Mahasiswa Indonesia Berkesempatan Kuliah Riset di Australia dengan Pendanaan Penuh

Menurut laporan militer Korsel, suara dari Korea Utara mulai mereda sehari setelah speaker di sisi selatan berhenti beroperasi. Militer berencana menyelesaikan pencopotan seluruh sistem pengeras suara itu pada akhir pekan ini, meski belum ada rincian jumlah perangkat yang dibongkar.

Langkah ini mencerminkan perubahan pendekatan pemerintahan Presiden Lee Jae Myung, yang berkomitmen untuk membangun kembali kepercayaan antara kedua Korea dan membuka ruang dialog tanpa prasyarat. Pemerintah sebelumnya memasang kembali speaker propaganda sebagai respons atas kiriman balon-balon berisi sampah dari Korea Utara pada tahun lalu.

Presiden Lee menekankan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi diplomatik untuk meredakan salah satu konflik paling lama di Asia Timur, meskipun tanggapan dari Korea Utara masih bersifat konfrontatif.

BACA JUGA :  Cara Menghadapi Bos Toksik Tanpa Harus Resign di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

“Jika Republik Korea berharap dapat membalikkan semua hasil yang telah dicapainya hanya dengan beberapa kata sentimental, tidak ada kesalahan perhitungan yang lebih serius daripada itu,” tegas Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pekan lalu.

Korea Selatan dan Korea Utara secara teknis masih berperang sejak Perang Korea 1950–1953 yang hanya diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Hubungan kedua negara memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kedekatan Korea Utara dengan Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina.

Terlepas dari retorika keras dari pihak Pyongyang, pemerintahan Lee tetap menunjukkan tekad untuk melanjutkan pendekatan diplomatik guna menciptakan stabilitas di Semenanjung Korea.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================