
Namun dorongan untuk bisa beribadah langsung di Temple Mount kian menguat di kalangan ekstremis, yang bahkan tidak segan memasuki area Masjid Al Aqsa dan melakukan penggalian terowongan di bawahnya sejak tahun 1087.
Penggalian ini diyakini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk melemahkan struktur masjid dan mengklaim situs tersebut secara sepihak.
Status Quo Dilanggar?
Sejak Israel menguasai Yerusalem Timur pada 1967, status kompleks Al Aqsa diatur melalui kesepakatan status quo yang menyatakan bahwa pengelolaan dan kontrol atas masjid sepenuhnya berada di tangan umat Islam, melalui Waqf Yordania.
Pemerintah Israel sendiri telah mengakui kesepakatan ini secara resmi, meskipun pelanggaran berulang kali terjadi di lapangan.
Kunjungan dan aksi provokatif seperti yang dilakukan oleh Ben Gvir dipandang sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut dan mengancam stabilitas kawasan.
Tak jarang, insiden semacam ini berujung bentrokan, penangkapan, hingga eskalasi konflik yang lebih luas di wilayah Palestina.
Konflik yang Terus Berulang
Ketegangan di kompleks Al Aqsa bukan hanya persoalan keagamaan, tetapi juga simbol dari konflik yang lebih dalam antara Israel dan Palestina.
Masjid Al Aqsa menjadi titik sentral dalam perjuangan identitas dan kedaulatan rakyat Palestina, sementara kelompok-kelompok ekstremis Yahudi memanfaatkannya sebagai alat untuk melegitimasi klaim sejarah mereka.
Sementara itu, komunitas internasional terus menyerukan pentingnya menjaga status quo dan mencegah langkah-langkah sepihak yang bisa memperkeruh situasi. Namun, selama aksi provokatif tetap dibiarkan, kompleks Al Aqsa akan terus menjadi medan ketegangan yang rentan memicu konflik skala besar.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















