
Namun saat hendak menyeberangi Sungai Tambak Beras yang sedang pasang, mereka dikejar oleh pasukan Majapahit dan terpaksa mundur.
Keesokan harinya, pasukan Majapahit berhasil menyeberangi sungai dan mengepung wilayah Tuban. Mendapat laporan dari bawahannya, Mantri Gagarangan dan Tambak Baya, Ranggalawe naik pitam dan memutuskan untuk bertempur.
Ia turun ke medan laga mengendarai kuda kesayangannya, Mega Lamat, sedangkan Nambi datang dengan kuda Brahma Cikur.
Pertarungan antara Ranggalawe dan Nambi berlangsung sengit. Dalam duel tersebut, Ranggalawe berhasil melukai kuda Nambi, membuatnya terjatuh dan melarikan diri. Ranggalawe lalu mengejar hingga ke Sungai Tambak Beras.
Di titik inilah kekuatan pasukan Majapahit melemah dan mengalami kekalahan. Panji kebesaran kerajaan pun jatuh di medan perang—simbol kegagalan dalam menghadapi perlawanan dari salah satu putra terbaiknya sendiri.
Pemberontakan Ranggalawe menjadi gambaran betapa rapuhnya stabilitas politik di masa awal Majapahit.
Perselisihan soal jabatan dan loyalitas yang bergeser bisa dengan cepat berubah menjadi pertumpahan darah, bahkan sebelum Majapahit mencapai puncak kejayaannya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















