
Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)
TES Kemampuan Akademik (TKA) yang dicanangkan pemerintah sebagai bagian dari asesmen kompetensi dasar mulai ramai dibicarakan di lingkungan sekolah menengah atas.
Meski kerap disebut bukan sebagai ujian kelulusan, nyatanya banyak sekolah mulai mempersiapkannya dengan serius.
Bahkan, sejumlah satuan pendidikan menyusun jadwal khusus latihan TKA, sementara siswa mulai mencari cara terbaik untuk menghadapinya, termasuk dengan mengikuti bimbingan belajar atau bimbel intensif.
Fenomena ini mengingatkan pada era Ujian Nasional. Ketika ujian menjadi tolok ukur reputasi sekolah, tekanan tidak hanya dirasakan siswa, tapi juga guru dan kepala sekolah.
Kini, meskipun narasi yang dibangun berbeda yakni untuk pemetaan dan pengembangan kemampuan dasar, realitas di lapangan menunjukkan bahwa TKA mulai mengambil bentuk simbolik yang serupa seolah menjadi ajang kompetisi reputasi yang menyusup ke dalam dinamika sekolah.
Dalam konteks itu, bimbel kembali menjadi pilihan populer. Banyak lembaga pendidikan nonformal menawarkan program intensif khusus TKA, lengkap dengan simulasi soal, try out, hingga strategi menjawab cepat.
Siswa pun menghadapi pertanyaan reflektif, apakah perlu mengikuti bimbel untuk mempersiapkan diri menghadapi TKA?
Dari sudut pandang sosiologi pendidikan, kehadiran bimbel mencerminkan gejala komersialisasi proses belajar.
Ketika ketimpangan kualitas pengajaran di sekolah terjadi, bimbel hadir menambal kekosongan tersebut dengan konsekuensi biaya yang tidak ringan. Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap layanan ini.
Sehingga bimbel dalam praktiknya sering memperkuat reproduksi ketimpangan sosial di bidang pendidikan, karena mereka yang mampu membayar memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam sistem yang kompetitif.
Selain itu, budaya belajar yang dibangun oleh bimbel umumnya menekankan efisiensi hasil ketimbang kedalaman pemahaman. Siswa dilatih menyelesaikan soal dengan cepat, mengenali pola, dan menghafal strategi, bukan mendalami makna dan keterkaitan antar konsep. Proses belajar direduksi menjadi keterampilan teknis menjawab soal, bukan eksplorasi kritis terhadap materi.
Disisi lain keberadaan bimbel tidak bisa ditolak begitu saja. Bagi sebagian siswa, terutama mereka yang belajar di sekolah dengan keterbatasan sumber daya, bimbel bisa menjadi bentuk intervensi positif dalam meningkatkan kesiapan menghadapi TKA.
Dalam hal ini, pertanyaannya bukan lagi apakah bimbel perlu atau tidak, melainkan bagaimana siswa mengenali kebutuhan belajarnya secara sadar, memilih metode belajar yang sesuai, dan tidak tergiring pada tekanan semu yang bersifat kompetitif.
Pendidikan seharusnya mendorong siswa untuk menjadi subjek aktif yang mengatur ritme dan strategi belajarnya sendiri.
Peran guru pun menjadi sangat penting untuk membantu siswa memahami bahwa TKA bukan ajang pembuktian nilai atau gengsi sekolah, melainkan sarana refleksi terhadap proses belajar.
Dengan demikian, perlu atau tidaknya mengikuti bimbel untuk TKA tidak dapat dijawab secara hitam-putih.
Lebih dari tersebut adalah membangun kesadaran kritis siswa terhadap esensi belajar dan membebaskan diri dari tekanan performatif yang tidak sehat.
Jika pun memilih bimbel, hendaknya itu dilakukan bukan karena panik atau ikut-ikutan, melainkan karena sadar bahwa itu memang membantu kebutuhan belajarnya.
Pada akhirnya pendidikan bukanlah perlombaan, dan asesmen bukanlah panggung kompetisi reputasi.
Bimbel bisa menjadi alat bantu, tetapi bukan satu-satunya jalan. Ada hal yang lebih utama yakni bagaimana sistem pendidikan dan para pendidik mengembalikan makna belajar sebagai proses yang utuh, bermakna, dan membebaskan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















