
Saat ini, data pemetaan di Korsel hanya disediakan oleh dua perusahaan lokal, Naver dan Kakao. Keduanya menawarkan peta digital komprehensif lengkap dengan mesin pencari dan layanan pembayaran, dengan seluruh data disimpan di server domestik.
Sementara itu, Google yang menyimpan data di server internasional, hanya dapat menyediakan peta berskala 1:25.000 tanpa petunjuk arah real time.
Pembatasan ini berdampak pada sektor pariwisata dan teknologi. Menurut Korea Tourism Organization, keluhan terkait aplikasi navigasi meningkat 71% pada 2024, dengan 30% di antaranya terkait Google Maps.
Pengamat teknologi menilai kebijakan ini menghambat inovasi startup, khususnya yang mengembangkan layanan berbasis lokasi dengan cakupan global.
Pemerintah Korsel sebenarnya menawarkan solusi alternatif bagi Google, yakni mengoperasikan pusat data domestik.
Namun, Google menolak karena opsi tersebut dinilai tidak sesuai dengan persyaratan teknis integrasi server global mereka.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















