
BOGORTODAY.COM – Ratusan warga Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang setiap hari masih banyak mengantungkan hidupnya di Tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Galuga.
Para pemulung tersebut sebisa mungkin membuat bedeng untuk mengepul sampah plastik, kardus dan logam untuk di jual kembali. Dalam sehari mereka bisa mengaisi rejeki Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu rupiah.
Salah satu pemulung Nenek Mami misalnya, ia mengaku dalam sehari dari hasil mengumpulkan plastik, kardus bekas dan besi paling sedikit mendapatkan Rp 50 ribu.
Menurut Mami Ketika hasil memilah sampah hasilnya semakin banyak bisa mencapai Rp 200 ribu, tergantung rejekinya.
”Udah 15 tahun bekerja memilah sampah, hasil memulung bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jika sedang bagus, dirinya bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu per hari,” ucapnya.
Disisi lain, menurut Kepala Desa Galuga, Endang Sujana mengungkapkan mereka yang mengais rezeki di TPAS Galuga tercatat sekitar 1.000 orang.
Endang mengatakan, untuk warga asli Desa Galuga ada 600 orang, sisanya ada berada di desa sekitar TPAS Galuga, seperti Desa Cijujung, Desa Dukuh dan ada juga dari luar Kecamatan Cibungbulang .
”Masyarakat Desa yang menggantung hidup di TPAS Galuga kebanyakan di Kampung Cimanggir RT 05,07,08,09 dan 11,” katanya.
Sejak pagi, para pemulung sudah memilah sampah TPAS Galuga sejak dan sorenya anak -anak usai mereka pulang sekolah
Dalam sehari dari memilah sampah, mereka bisa mendapatkan uang Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu. Ketika beruntung, ada juga pemulung yang mendapat barang berharga yang terbuang di TPAS Galuga.
”Kalau pemulung dibilang orang tidak mampu nga juga. Mereka memulung karena profesi dan itu merupakan cara paling mudah untuk mencari uang,” ujar Kades Endang.
Endang mengungkapkan keberadaan pemulung di TPAS Galuga sudah ada sejak tahun 1984. Mereka yang mengais rezeki dengan cara memilah sampah sudah dilakukan turun menurun .
Menurut Endang, para pemulung yang berada di TPAS Galuga sangat berjasa dan membantu pemerintah dalam hal menangani persoalan sampah plastik.
Untuk itu, dirinya berharap pemerintah memperhatikan para pemulung dengan menyiapkan peralatan seperti sepatu boot.
”Kita meminta pemerintah mengabulkan usulan pemerintah Desa yakni perluas lahan TPAS Galuga seluas 125 Hektar. Selain itu, area TPAS Galuga di pasang sirene atau speaker. Ketika terjadi longsor atau musibah, para pemulung disekitar Galuga bisa langsung cepat dievakuasi,” tandasnya.
Bagi HalamanWartawan : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














