
Saat ini sudah ada 35 titik pengumpulan di berbagai lokasi strategis. Warga tidak hanya berkontribusi dalam pengelolaan limbah rumah tangga, tapi juga mendapat insentif berupa saldo rupiah.
Jejak Panjang Inovasi
Upaya ini bukan langkah instan. Sejak 2021, Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah melakukan serangkaian riset dan uji coba.
- Oktober 2021: uji coba pertama pakai CN235-200 FTB (Bandung–Jakarta).
- Oktober 2023: uji coba komersial pakai Boeing 737-800 Garuda Indonesia (Jakarta–Solo–Jakarta).
Kini, uji coba berlanjut dengan penerbangan reguler Pelita Air, yang menandai kesiapan penuh Indonesia memasuki era bahan bakar hijau di sektor aviasi.
PertaminaSAF: Lebih Unggul dari Avtur Fosil
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menyebut penerbangan ini sebagai simbol transisi energi.
“Produk ini membuktikan Indonesia punya kapabilitas untuk memproduksi bahan bakar pesawat masa depan,” kata Taufik.
Keunggulan PertaminaSAF antara lain:
- Ramah lingkungan: Emisi karbon lebih rendah 81–84% dibanding avtur fosil.
- Bersertifikat internasional ISCC CORSIA.
- Freezing point lebih rendah dari standar global, sehingga aman di kondisi ekstrem ketinggian pesawat.
Ke depan, PertaminaSAF akan dikembangkan juga di Kilang Dumai dan Kilang Balongan menggunakan teknologi co-processing dengan Katalis Merah Putih buatan anak bangsa.
Menuju Indonesia Hijau
Langkah ini bukan hanya inovasi teknologi, tapi juga bukti nyata bahwa transisi energi di Indonesia terus bergerak maju.
Dengan keterlibatan masyarakat, dukungan riset kampus, hingga komitmen pemerintah, Indonesia kini selangkah lebih dekat menjadi pemimpin energi hijau dunia.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















