
Solusi yang lebih fundamental adalah beralih menuju ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, sampah tidak lagi dilihat sebagai limbah, melainkan sumber daya bernilai.
Banyak negara telah menerapkan sistem ini, menghubungkan industri dengan daur ulang, membuka lapangan kerja hijau, sekaligus menekan emisi karbon.
Bagi Indonesia, ekonomi sirkular bisa jadi jawaban. Produsen harus mendesain ulang kemasan agar bisa didaur ulang, konsumen membiasakan memilah sampah, dan pemerintah menyediakan infrastruktur pengolahan.
Jika botol plastik kembali ke pabrik, kardus kembali ke industri kertas, dan logam ke smelter, maka tidak ada lagi sampah tercecer di laut atau sungai.
Kuncinya adalah integrasi kebijakan hulu-hilir. Hulu berarti edukasi, pengurangan plastik sekali pakai, dan tanggung jawab produsen. Hilir berarti fasilitas daur ulang, pemilahan terintegrasi, dan teknologi sebagai opsi terakhir.
Presiden Prabowo dalam rapat terbatas juga menekankan pentingnya skema ini. Tantangannya adalah koordinasi antar kementerian dan pemerintah daerah yang sering berjalan sendiri-sendiri.
Tanpa integrasi, target 2029 hanya akan menjadi ilusi.
Selain itu, jangan lupakan aspek keadilan sosial. Para pemulung dan pekerja daur ulang informal selama ini justru berkontribusi besar, meski bekerja tanpa jaminan dan perlindungan.
Dalam ekonomi sirkular, mereka harus dilibatkan, diberi insentif, akses pembiayaan, serta perlindungan sosial. Dengan begitu, penanganan sampah tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan.
Pengalaman negara lain bisa menjadi inspirasi. Jepang berhasil memilah sampah hingga 30 kategori, Jerman punya sistem deposit botol plastik, sementara Korea Selatan menerapkan tarif sampah berdasarkan volume.
Keberhasilan mereka tidak lahir dari teknologi semata, melainkan dari budaya dan tata kelola yang konsisten. Indonesia bisa belajar, namun harus menyesuaikan dengan kondisi lokal.
Percepatan target sampah 2029 adalah alarm bagi semua pihak. Pemerintah, akademisi, media, masyarakat sipil, hingga individu harus terlibat aktif.
Jika semua bergerak bersama, target 2029 bisa dicapai. Namun, jika pola lama tetap dipertahankan, gunungan sampah hanya akan terus meninggi.
Pertanyaan utama kini bukan lagi apakah target bisa dicapai, tetapi apakah bangsa ini mau berubah bersama-sama atau membiarkan masalah menjadi bencana ekologis yang lebih besar.
Jalan menuju ekonomi sirkular masih panjang, tetapi peluang terbuka. Jangan sampai kesempatan itu hilang hanya karena kita enggan berbenah.(mg2)
Editor : Jihan Muheri
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















