
Lebih jauh, penelitian juga menunjukkan tidak ada hubungan langsung antara pemakaian tabir surya dengan defisiensi vitamin D.
Kebiasaan Pakai Tabir Surya yang Tidak Optimal
Robert Den menambahkan, sebagian besar orang tidak menggunakan tabir surya dalam takaran ideal. Idealnya, 2 sendok makan (sdm) tabir surya diaplikasikan ke seluruh tubuh dan diulang setiap dua jam.
Namun dalam praktiknya, banyak orang mengoleskan terlalu sedikit dan jarang mengulanginya.
Akibatnya, paparan sinar matahari tetap terjadi tanpa disadari—misalnya saat berjalan keluar rumah, membuka jendela, atau keluar-masuk kendaraan. Momen kecil inilah yang tetap memungkinkan kulit memproduksi vitamin D.
Faktor yang Mempengaruhi Produksi Vitamin D
Jumlah vitamin D yang didapat dari sinar matahari bergantung pada berbagai faktor, di antaranya:
- Usia – orang lanjut usia lebih sulit memproduksi vitamin D.
- Warna kulit – kulit lebih gelap membutuhkan waktu lebih lama dibanding kulit terang.
- Pakaian – pakaian tertutup membatasi paparan UVB.
- Waktu aktivitas – sinar UVB paling kuat antara pukul 10.00–16.00.
- Lingkungan – cuaca mendung dan polusi udara dapat mengurangi intensitas sinar UVB.
Menggunakan tabir surya setiap hari tidak menyebabkan kekurangan vitamin D. Tubuh tetap bisa memproduksi vitamin D meski sebagian sinar UVB terhalang.
Untuk mencukupi kebutuhan harian, sebaiknya tetap lengkapi asupan vitamin D dari makanan seperti ikan berlemak, kuning telur, dan susu fortifikasi, atau dari suplemen bila diperlukan.
Dengan begitu, kulit tetap terlindungi dari bahaya sinar UV, sekaligus tubuh memperoleh cukup vitamin D untuk menunjang kesehatan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















