
Menariknya, keluarga dengan anak lebih sering memakai fitur AI dalam persiapan perjalanan ketimbang mereka yang belum berkeluarga. Hal ini menunjukkan AI membantu menghemat waktu.
Namun, pemesanan langsung lewat AI masih kurang diminati. Dari survei, hanya 45% yang memesan hotel lewat AI, 43% membeli tiket, dan 38% memesan restoran.
Ada juga 45% responden yang menggunakan AI untuk bertanya soal visa dan migrasi. Meski praktis, hal ini menimbulkan kekhawatiran.
Salah satu kasus sempat terjadi pada seorang penulis asal Australia yang gagal terbang ke Chili karena mendapat saran visa yang keliru dari ChatGPT.
Menurut Vladislav Tushkanov dari Kaspersky AI Technology Research Center, teknologi ini memang semakin matang dan mampu memberi ide kreatif serta riset lebih baik. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan pengguna.
Untuk keamanan, Kaspersky memberi sejumlah tips. Selalu verifikasi ulang informasi dari AI sebelum memesan atau membeli sesuatu.
Pastikan tetap terhubung saat bepergian, misalnya menggunakan eSIM di luar negeri. Selain itu, cek jaringan Wi-Fi, gunakan VPN, dan hindari otomatis terhubung ke hotspot asing.
Pengguna juga diingatkan menjaga perangkat agar aman, memakai kata sandi kuat, serta memasang solusi keamanan agar terlindung dari ancaman siber.(mg2)
Editor : Jihan Muheri
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















