
“Siswa kami rata-rata domisilinya ada yang masuk ke Kecamatan Tenjo, ada juga yang masuk ke wilayah Cigudeg,” tambahnya.
Yuyuk menilai kemacetan akibat truk tambang semakin parah, memaksa murid dan guru mencari cara agar tidak terlambat ke sekolah.
“Sangat sedih, karena memang belakangan ini macetnya hampir dibilang tidak masuk akal. Malah kadang anak-anak mikirin bagaimana caranya untuk bisa ke sekolah,” kata dia.
Ia mencontohkan, beberapa murid bahkan rela berjalan kaki menghindari kemacetan. “Itupun juga jaraknya masih cukup lumayan jauh, dan anak-anak masih berjalan sendiri, bahkan guru-gurunya juga banyak yang jalan kaki, tapi anak-anak tetap semangat,” ujarnya.
Editor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














