Mengapa Para Pelajar Mudah Diajak Demonstrasi?

Demonstrasi memberi mereka panggung untuk merasa menjadi bagian dari kelompok yang berani bersuara. Kemudahan mobilisasi di era digital semakin memperkuat hal itu. Cukup satu pesan berantai di WhatsApp, ditambah patungan biaya transportasi, puluhan siswa bisa langsung bergerak.

Bagi mereka, aksi bukan hanya ajang solidaritas, tetapi juga arena pembuktian diri. Kehadiran kamera ponsel dan media sosial membuat pengalaman tersebut semakin menggoda, karena bisa dipamerkan kepada teman sebaya.

Fenomena ini juga memperlihatkan adanya pihak luar yang mungkin ikut memanfaatkan situasi. Grup-grup besar berisi ratusan siswa menunjukkan bahwa keterlibatan pelajar tidak sepenuhnya lahir secara spontan. Ada aktor eksternal yang sengaja mendorong mereka menjadi massa tambahan.

Di sisi lain, derasnya arus informasi palsu yang menyebar di media sosial semakin menambah alasan bagi pelajar untuk ikut aksi, meski kerap tanpa memahami isu secara utuh. Dalam konteks ini, pelajar sebenarnya tidak sedang menjadi subjek politik yang mandiri, melainkan sering kali objek dari jaringan kepentingan yang lebih besar.

BACA JUGA :  Lahir dari Tempat Sederhana, Unitex Judo Club Bogor Terbukti Cetak Juara Dunia

Untuk menjawab fenomena ini tentu tidak cukup hanya dengan melarang atau meniadakan pembelajaran tatap muka. Langkah itu mungkin bisa meredam risiko jangka pendek, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Disi lain yang lebih penting adalah memperkuat literasi politik dan media di sekolah agar siswa belajar memahami isu publik sekaligus mampu memverifikasi informasi yang beredar.

Sekolah juga perlu menyediakan ruang dialog yang sehat. Forum diskusi, organisasi siswa, hingga kegiatan sosial dapat menjadi wadah alternatif untuk menyalurkan keresahan anak muda.

BACA JUGA :  7 Cara Bijak Menghadapi Sikap Meremehkan dari Orang Lain

Negara pun memiliki tanggung jawab melindungi anak-anak dari eksploitasi politik. Fokus aparat mestinya mengungkap siapa yang memobilisasi, bukan memberi stigma negatif kepada siswa.

Pada akhirnya, kemudahan pelajar diajak demonstrasi bukan hanya soal kedisiplinan, melainkan cermin dari adanya ruang kosong dalam pendidikan politik kita.

Ketika aspirasi anak muda tidak mendapat saluran yang tepat, mereka mencari jalannya sendiri, bahkan melalui demonstrasi yang penuh risiko.

Daripada hanya melarang, lebih bijak bila kita memberi mereka ruang belajar politik yang sehat, aman, dan bermakna. Dengan begitu, pelajar tetap bisa menjadi bagian dari perjalanan demokrasi tanpa harus kehilangan masa depannya.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================