BOGORTODAY.COM – Hyundai Motor Company tengah menghadapi guncangan besar setelah 42 ribu pekerja di tiga pabrik utama Korea Selatan melakukan aksi mogok kerja.
Mogok ini berlangsung sejak 3 September 2025 dan menjadi aksi penuh pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir.
Serikat pekerja mengajukan tiga tuntutan utama, yakni:
- kenaikan gaji pokok bulanan sebesar 141.300 won (sekitar Rp1,6 juta),
- alokasi 30 persen laba bersih perusahaan sebagai tunjangan kinerja khusus,
- pemangkasan jam kerja dari 5 hari menjadi 4,5 hari per minggu,
- serta perpanjangan usia pensiun dari 60 menjadi 64 tahun.
Kesepakatan mogok diambil setelah perundingan terakhir dengan manajemen Hyundai gagal pada 2 September.
Meski perusahaan menawarkan paket gaji, bonus, dan tunjangan, angka tersebut dianggap belum memenuhi ekspektasi.
Hasil pemungutan suara internal menunjukkan 86 persen anggota serikat mendukung aksi mogok.
Pabrik Kunci Terdampak
Aksi mogok dilakukan di tiga lokasi penting:
- Ulsan, pabrik mobil tunggal terbesar di dunia yang memproduksi Elantra, Palisade, Ioniq 5, hingga lini mewah Genesis.
- Jeonju, khusus kendaraan komersial.
- Asan, basis produksi sedan seperti Sonata, Grandeur, Ioniq 6, dan Ioniq 9.
Karena menyasar pusat produksi, aksi ini diperkirakan berdampak besar pada rantai pasok global Hyundai.
Sebagai perbandingan, aksi mogok tahun 2016 menyebabkan kerugian sekitar 2,5 triliun won (Rp29,4 triliun) setelah produksi berhenti selama 166 jam.
Rekor Penjualan Jadi Pemicu
Meski Hyundai telah menaikkan gaji pekerja sebesar 4,65 persen pada Juli 2024—kenaikan terbesar sepanjang sejarah perusahaan—serikat buruh menilai tambahan tersebut belum sepadan dengan keuntungan perusahaan.
Mereka merujuk pada rekor penjualan Hyundai di pasar Amerika Serikat, terutama untuk segmen mobil listrik.
Pada Agustus 2025, penjualan Hyundai naik 12 persen menjadi 88.523 unit, memperpanjang tren kenaikan selama 11 bulan berturut-turut.
“Agustus adalah bulan luar biasa bagi kami. Penjualan ritel dan total penjualan jauh melampaui rekor sebelumnya, khususnya model Elantra HEV, Palisade, dan Ioniq 5,” ujar Randy Parker, CEO Hyundai Motor North America, dalam keterangan resminya.
Tantangan Besar Hyundai
Mogok massal ini menjadi ujian berat bagi Hyundai. Di satu sisi, perusahaan tengah menikmati pertumbuhan berkat mobil listrik dan SUV andalannya.
Namun di sisi lain, konflik internal dengan pekerja berpotensi mengganggu momentum positif yang sudah terbangun.
Apabila tidak segera diselesaikan, aksi mogok ini dikhawatirkan akan menekan produksi, memperlambat distribusi global, dan kembali menimbulkan kerugian finansial yang besar bagi Hyundai.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















