
BOGORTODAY.COM – Serangan udara Israel terhadap Penjara Evin di Teheran pada 23 Juni lalu menewaskan sedikitnya 80 orang, termasuk narapidana, petugas medis, staf penjara, pengunjung, hingga warga sekitar.
Peristiwa itu menjadi salah satu serangan paling mematikan Israel terhadap Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Penjara Evin, yang terkenal menahan ribuan tahanan politik selama lebih dari setengah abad, menjadi sasaran gempuran militer Israel dengan dalih fasilitas tersebut digunakan untuk operasi intelijen melawan Israel.
Namun, menurut Human Rights Watch dan Amnesty International, serangan itu melanggar hukum humaniter internasional dan tergolong kejahatan perang.
Goonei, Aktivis Politik yang Lolos dari Kematian
Seorang aktivis politik bernama Goonei yang ditahan di sel isolasi menggambarkan detik-detik ledakan besar mengguncang kompleks penjara.
“Ketika saya mendengar ledakan ketiga, saya yakin tidak ada jalan keluar. Saya menggedor pintu sekuat tenaga, tetapi pintu itu tidak mau terbuka. Saya pikir ‘inilah akhir hidup, ucapkan selamat tinggal’,” ujar Goonei.
Secara mengejutkan, Goonei berhasil keluar setelah pintunya dibuka tahanan lain. Meski asap tebal menyesakkan, para narapidana justru menunjukkan sisi kemanusiaan: membantu sipir yang terluka, menenangkan petugas perempuan yang panik, hingga membalut luka seorang juru interogator.
Kesaksian Para Korban
Banyak tahanan menggambarkan suasana mencekam saat ledakan bertubi-tubi menghantam kompleks.
Seorang perempuan yang ikut ditahan di Evin menyebut para sipir justru menutup pintu dan melarang mereka keluar.
“Awalnya terjadi beberapa ledakan beruntun. Jendela pecah, asap masuk, dan kami membantu perempuan tua ke bawah. Tidak ada seorang pun sipir yang membantu kami,” katanya kepada BBC dengan syarat anonimitas.
Seorang dokter bernama Saeedeh Makarem yang terluka parah bahkan selamat berkat bantuan para narapidana yang pernah ia rawat.
Korban Jiwa dan Identitas yang Terungkap
Otoritas Iran melaporkan 80 korban tewas, terdiri dari 42 staf penjara dan 5 narapidana. Namun, investigasi BBC Persia memverifikasi identitas sebagian korban, antara lain:
- Masoud Behbahani, warga negara ganda Iran–Amerika, ditahan atas tuduhan kasus keuangan.
- Arvin Mohammadi (37), tewas saat mengurus jaminan pembebasan ayahnya.
- Mehrangiz Imanpour (61), pelukis ternama yang tewas akibat pecahan proyektil.
Selain itu, korban juga mencakup seorang ibu dengan bayi berusia satu tahun, 13 pemuda wajib militer, lima pekerja sosial, hingga seorang anak berusia lima tahun.
Israel vs. Iran: Latar Belakang Serangan
Militer Israel (IDF) menyatakan serangan itu ditujukan pada “simbol penindasan rakyat Iran” dan mengklaim telah berusaha meminimalkan korban sipil.
Namun laporan satelit dan investigasi independen menunjukkan sedikitnya enam proyektil menghantam Evin, merusak 28 bangunan di dalam kompleks.
Iran menuduh Israel sengaja melancarkan teror dengan target sipil. Kantor HAM PBB menegaskan Penjara Evin “bukanlah sasaran militer” sehingga serangan tersebut jelas melanggar hukum internasional.
Nasib Tahanan Transgender Masih Misterius
Pasca-serangan, beredar kabar bahwa 100 tahanan transgender tewas. Namun, investigasi BBC membantah klaim itu.
Reza Shafakhah, seorang pengacara Iran, menyatakan masih ada kekhawatiran serius tentang keberadaan mereka karena hingga kini tidak diketahui nasibnya.
Serangan terhadap Penjara Evin memperlihatkan betapa konflik Israel–Iran semakin brutal, dengan dampak yang menghantam bukan hanya target militer, tetapi juga tahanan politik, warga sipil, dan bahkan tenaga medis.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














