
Orang yang mengalami kelumpuhan tidur sering melaporkan:
- Tidak bisa bergerak meski sadar.
- Sensasi dada tertekan atau sulit bernapas.
- Halusinasi visual atau auditori, misalnya melihat bayangan atau mendengar suara.
- Perasaan ada yang menyentuh tubuh atau memegang leher.
Episode ini biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit. Meski tidak membahayakan, sensasinya bisa menimbulkan rasa takut yang luar biasa.
Siapa yang Rentan Mengalaminya?
Sleep paralysis umumnya muncul pertama kali pada usia 15 hingga 35 tahun. Kondisi ini dapat terjadi sporadis dan dipicu oleh:
- Kurang tidur.
- Stres atau gangguan kecemasan.
- Faktor keturunan.
- Kondisi medis tertentu seperti narkolepsi.
Menurut National Sleep Foundation, kelumpuhan tidur sering muncul sebagai gejala narkolepsi—penyakit yang ditandai kantuk berlebihan, serangan tidur mendadak, hingga hilangnya kontrol otot.
Jika kelumpuhan tidur terjadi berulang tanpa narkolepsi, kondisi ini dikenal sebagai kelumpuhan tidur terisolasi berulang.
Antara Mistis dan Sains
Di banyak budaya, sleep paralysis sering dianggap sebagai pengalaman supranatural. Namun, menurut sains, fenomena ini hanyalah gangguan pada siklus tidur yang normal.
American Sleep Association menyebut kelumpuhan tidur bisa disertai perasaan ringan seolah tubuh melayang, atau sebaliknya, sensasi tertekan yang menimbulkan ketakutan.
Meskipun tidak berbahaya, tidur yang cukup, manajemen stres, serta menjaga pola hidup sehat dapat membantu mencegah episode sleep paralysis.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















