
Lebih lanjut, Fadli berharap perpustakaan ini dapat menjadi bagian dari warisan (legacy) Ahmad Tohari, sastrawan besar asal Banyumas yang dikenal lewat karya monumental “Ronggeng Dukuh Paruk.”
Perpustakaan tidak hanya dirancang sebagai ruang baca, tetapi juga sebagai ruang publik untuk memperluas pemahaman atas perspektif Ahmad Tohari dalam menulis, mengarsipkan, serta mengembangkan karya sastra.
“Dengan adanya perpustakaan ini, masyarakat diharapkan bisa lebih terinspirasi oleh karya-karya beliau yang sarat nilai sastra sekaligus spiritualitas lokal,” kata Fadli.
Harapan Ahmad Tohari
Sementara itu, Ahmad Tohari menekankan perlunya meningkatkan minat membaca di tengah derasnya arus digitalisasi.
“Teknologi tidak sepenuhnya bisa menggantikan buku. Jadi, kita akan mencoba menghidupkan perpustakaan, dan alhamdulillah sekarang sedang dibangun,” ungkapnya.
Pejabat yang Mendampingi
Dalam kunjungan ini, Menbud turut didampingi oleh sejumlah pejabat, antara lain:
- Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan
- Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda
- Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, Putri Woelan Sari Dewi
- Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono
- Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis
- Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Ferry Arlian
Dengan dukungan pemerintah dan tokoh sastra nasional, Perpustakaan Ahmad Tohari diharapkan menjadi pusat literasi baru yang melahirkan generasi penulis muda serta memperkuat tradisi membaca di tengah gempuran era digital.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















