Ambivert: Saat Kepribadian Tidak Sepenuhnya Introvert atau Ekstrovert

Ambivert
Ambivert: Saat Kepribadian Tidak Sepenuhnya Introvert atau Ekstrovert. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Pernah merasa tidak sepenuhnya cocok disebut introvert, tapi juga tidak pas digolongkan sebagai ekstrovert? Jika iya, bisa jadi Anda adalah seorang ambivert.

Kepribadian ambivert berada di tengah spektrum introvert dan ekstrovert. Artinya, orang dengan tipe ini bisa bersikap pendiam dan reflektif dalam satu kesempatan, namun terlihat ramah dan penuh energi di kesempatan lain. Semua bergantung pada situasi dan lingkungannya.

Menurut Simply Psychology, istilah ambiversion pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Kimball Young pada 1927. Konsep ini sebenarnya berakar dari gagasan Carl Jung mengenai introversi dan ekstroversi. Jung menilai kepribadian manusia tidaklah hitam putih, melainkan berada dalam sebuah spektrum.

Introvert biasanya lebih nyaman dengan waktu menyendiri, sementara ekstrovert memperoleh energi dari interaksi sosial. Ambivert berada di tengah-tengah, mampu menikmati keduanya. Menariknya, penelitian menunjukkan sebagian besar orang sebenarnya adalah ambivert, meski sering kali tidak menyadarinya.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Ciri-Ciri Ambivert

Ambivert memiliki gabungan sifat introvert dan ekstrovert. Beberapa tanda umum antara lain:

  • Pandai berkomunikasi, tahu kapan berbicara dan kapan mendengarkan.
  • Nyaman berada di keramaian, tapi juga menikmati waktu sendiri.
  • Fleksibel menyesuaikan perilaku sesuai situasi sosial.
  • Mampu bekerja sendiri maupun dalam tim.
  • Menjadi penyeimbang dalam kelompok.
  • Memiliki empati dan kesadaran diri yang baik.

Sifat adaptif inilah yang membuat ambivert kerap dianggap lebih fleksibel dibanding introvert maupun ekstrovert murni.

Kelebihan Menjadi Ambivert

Melansir Healthline, kepribadian ambivert memberi keuntungan tersendiri dalam berbagai aspek kehidupan:

  1. Hubungan sosial
    Ambivert bisa ramah dan mudah bergaul, sekaligus membangun hubungan mendalam berkat sifat reflektifnya.
  2. Karier dan kepemimpinan
    Mereka percaya diri saat dibutuhkan, tapi juga menjadi pendengar yang baik. Penelitian bahkan menyebut ambivert bisa lebih sukses di bidang penjualan dan kepemimpinan karena mampu menyesuaikan gaya komunikasi.
  3. Keseimbangan hidup
    Ambivert cenderung lebih mudah menyeimbangkan kebutuhan sosial dan pribadi. Mereka bisa menghadiri pesta dengan semangat, lalu nyaman menghabiskan akhir pekan untuk membaca atau beristirahat.
BACA JUGA :  Kabar Gembira, Perumda Tirta Pakuan Gelar Promo Pasang Baru Murah Meriah di Momentum HJB

Mengenali diri sebagai ambivert membantu kita memahami kebutuhan pribadi, baik dalam interaksi sosial maupun profesional. Kepribadian ini bukan sekadar “setengah introvert” atau “setengah ekstrovert,” melainkan perpaduan unik yang memberi fleksibilitas dalam menghadapi berbagai situasi.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================