
Pengamat tata ruang wilayah, I Nyoman Gede Maha Putra, menegaskan alih fungsi lahan masif menjadi salah satu pemicu banjir besar baru-baru ini. Ia juga menyebut lemahnya mitigasi bencana sebagai faktor tambahan.
Namun, Gubernur Bali Wayan Koster sempat membantah klaim tersebut. Menurutnya, alih fungsi lahan lebih banyak terjadi di Badung dan Gianyar, bukan di Denpasar, lokasi banjir terbesar. Meski begitu, Gede menilai pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar maupun salah. “Alih fungsi merupakan salah satu penyumbang bagi munculnya banjir,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Bali mencoba mengambil langkah pengendalian melalui revitalisasi portal informasi Tarubali. Fasilitas ini menjadi sarana komunikasi publik untuk memperkuat perencanaan tata ruang.
Pemprov juga tengah menyusun peraturan gubernur tentang tata cara pengendalian alih fungsi lahan produktif agar pembangunan tetap selaras dengan RTRW dan RDTR.
Kasus banjir besar ini akhirnya membuka kembali perdebatan tentang masa depan tata ruang Bali.
Di satu sisi, pariwisata memberi pemasukan besar bagi daerah. Namun di sisi lain, jika alih fungsi lahan terus dibiarkan, Bali akan semakin rentan terhadap bencana ekologis di masa depan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















