Alih Fungsi Lahan Jadi Sorotan di Balik Banjir Besar Bali

Banjir
Tim SAR gabungan berjibaku mencari tiga korban hilang akibat banjir di Mengwitani, Badung, Bali, Minggu (14/9/2025). (Foto: detikcom)

BOGORTODAY.COM Banjir Bali masih menjadi sorotan dunia internasional hingga kini. Peristiwa yang menelan korban jiwa itu memicu berbagai dugaan tentang penyebabnya.

Salah satu faktor yang banyak disebut adalah alih fungsi lahan yang masif terjadi di Bali, terutama demi mendukung industri pariwisata.

Di banyak kawasan penyangga wisata, lahan produktif diubah menjadi vila, hotel, dan condotel.

Menurut penelitian Ni Komang Pramudiasari dalam artikel Pariwisata Menyempitkan Ruang Hijau: Dampak Ekspansi Villa Terhadap Keseimbangan Tata Guna Lahan di Bali, setiap tahun sekitar 1.000 hektar lahan pertanian di Bali hilang akibat konversi lahan. Pesatnya pembangunan akomodasi wisata mendorong tren ini semakin tak terkendali.

BACA JUGA :  Puncak HJB ke-544, Pemkot Bogor Tabur Penghargaan Bagi Masyarakat Kontributif dan Mitra Strategis

Tulisan dalam Jurnal Pacta Sunt Servanda dari Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) juga menyoroti kenaikan harga tanah di sekitar destinasi wisata.

Fenomena ini mempercepat perubahan fungsi lahan, menekan keberadaan subak—sistem irigasi tradisional yang sudah ratusan tahun menjaga keseimbangan air di Bali.

BACA JUGA :  LPDP Buka Beasiswa Co-Funding 2026, Kesempatan Kuliah S2 di China, AS, hingga Indonesia

Hilangnya lahan hijau dan semakin menyusutnya hutan—yang kini kurang dari 30% luas wilayah Bali—meningkatkan risiko bencana ekologis, termasuk banjir.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================