Start Terburuk Manchester United dalam 33 Tahun, Amorim di Ujung Tanduk

Manchester United
Pelatih Manchester United, Ruben Amorim. (Foto: NYT)

BOGORTODAY.COM – Pelatih Manchester United, Ruben Amorim, kembali menjadi sorotan setelah timnya mengalami kekalahan telak 0-3 dari Manchester City dalam Derby Manchester yang digelar pada pekan keempat Liga Inggris 2025–2026, Minggu (14/9/2025) malam WIB. Hasil buruk di Etihad Stadium tersebut memperpanjang tren negatif Setan Merah, yang kini mencatatkan awal musim terburuk mereka di Premier League dalam 33 tahun terakhir.

Hingga pekan keempat, MU baru mengoleksi empat poin. Statistik ini tak hanya menunjukkan performa mengecewakan, tetapi juga memperburuk citra Amorim sebagai pelatih. Sejak era Perang Dunia II, tak ada manajer Manchester United dengan persentase kemenangan lebih rendah darinya.

Situasi makin memprihatinkan jika melihat performa sejak Amorim ditunjuk pada November lalu. MU tercatat sebagai tim dengan perolehan poin paling sedikit di antara klub-klub yang konsisten tampil di Premier League. Rata-rata hanya satu poin per pertandingan dan selisih gol minus 13 membuat posisi Amorim semakin tertekan.

Amorim mengakui bahwa kekalahan dari Manchester City tak lepas dari keunggulan lawan dalam momen-momen krusial. “Penampilan kami tidak bagus. Pada momen-momen penting, mereka lebih baik daripada kami,” ujarnya usai laga, dikutip dari Sky Sports.

BACA JUGA :  KaBogorFest 2026 Resmi Dibuka, Bupati Bogor Ajak Masyarakat Meriahkan HJB ke-544

Meski demikian, Amorim berusaha tetap tenang dan realistis. Ia menyadari buruknya statistik yang tercatat dan memahami kekecewaan para pendukung.

“Saya mencoba bersikap rasional. Saya melihat catatan itu. Saya mengerti rasa frustrasi dan keputusan yang muncul dari hal itu. Saya menerima kritik. Itu saja,” tambahnya.

Kekecewaan fans terlihat jelas saat banyak dari mereka meninggalkan stadion sebelum pertandingan berakhir. Amorim pun menyampaikan pesan singkat sebagai bentuk tanggung jawab.

“Pesan saya? Saya akan melakukan segalanya. Selalu memikirkan apa yang terbaik untuk klub. Sampai saya masih di sini, saya akan memberikan yang terbaik. Selebihnya bukan keputusan saya. Saya lebih menderita daripada para fans,” ungkapnya.

Salah satu kritik paling tajam terhadap Amorim adalah keengganannya untuk meninggalkan formasi 3-4-2-1. Sistem tersebut dinilai gagal memberikan stabilitas dan konsistensi, namun Amorim tetap bersikukuh.

“Ada banyak hal yang kalian tidak tahu selama bulan-bulan ini, tapi saya menerimanya. Ketika saya ingin mengubah filosofi saya, saya akan mengubahnya. Jika tidak, maka kalian harus mengganti orangnya,” katanya tegas.

BACA JUGA :  Psikologi Warna di Kantor: Pilihan Warna Pakaian yang Bisa Mempengaruhi Kesan Profesional

Ia juga menegaskan bahwa kritik terhadap sistem permainan hanya muncul saat tim mengalami kekalahan.

“Saya tidak percaya pada anggapan sistem adalah masalahnya. Jadi saya bermain dengan cara saya dan saya akan terus bermain dengan cara itu sampai saya memutuskan untuk mengubahnya,” jelas Amorim.

Amorim menyadari bahwa dalam dunia sepak bola modern, hasil pertandingan sangat menentukan persepsi publik.

“Saya mengerti bagaimana sepak bola bekerja dan hasil yang menentukan cerita. Saya melihatnya seperti itu. Saya tahu ini sulit untuk orang-orang. Fans tidak ingin mendengar hal-hal seperti itu. Saya tidak berbohong kepada diri saya sendiri. Saya melihat rekornya dan saya menerima keputusan apa pun,” pungkasnya.

Dengan tekanan yang terus meningkat dan kesabaran fans yang mulai menipis, masa depan Amorim di Old Trafford kini berada dalam ketidakpastian. Manchester United dihadapkan pada pilihan sulit: tetap mendukung filosofi sang pelatih atau mencari sosok baru yang mampu mengembalikan kejayaan klub. (mg1)

Bagi Halaman

Editor : Samudera

Sumber : iNews

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================