
BOGORTODAY.COM – Perusahaan di balik chatbot kecerdasan buatan ChatGPT — mengumumkan rencana penerapan sistem verifikasi usia yang meminta identitas resmi atau KTP bagi pengguna.
Langkah ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan memperlakukan secara berbeda pengguna yang berusia di bawah 18 tahun.
Pengumuman itu disampaikan sebagai respons atas kasus bunuh diri seorang remaja yang sempat berbulan-bulan berkomunikasi dengan chatbot OpenAI.
CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan dalam postingan di blog resmi perusahaan bahwa keselamatan remaja menjadi prioritas meski upaya tersebut menuntut pengorbanan privasi bagi sebagian pengguna dewasa.
“OpenAI memprioritaskan keamanan di atas privasi dan kebebasan untuk remaja,” tulis Altman, dikutip The Guardian, Jumat (19/9/2025).
Deteksi Usia dan Penyesuaian Respons
OpenAI menyebut akan mengembangkan sistem yang dapat mendeteksi usia pengguna berdasarkan aktivitas dalam ChatGPT.
Jika sistem mendeteksi akun milik anak di bawah 18 tahun, chatbot akan menyesuaikan responsnya agar lebih ramah anak dan membatasi akses terhadap konten yang tidak sesuai.
Perubahan perilaku ChatGPT untuk pengguna di bawah 18 tahun akan mencakup pemblokiran konten eksplisit dan seksual, serta pelatihan model agar tidak merayu atau terlibat dalam percakapan yang mendorong bunuh diri atau melukai diri sendiri — termasuk dalam konteks penulisan kreatif.
Prosedur saat Terindikasi Bahaya
Altman menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil bila sistem mendeteksi niat bunuh diri pada pengguna di bawah umur: OpenAI akan berusaha menghubungi orang tua terlebih dulu; jika upaya tersebut gagal dan ancaman dianggap mendesak, perusahaan akan menginformasikan pihak berwenang.
Menurut Altman, keputusan ini diambil setelah berdiskusi dengan para ahli dan dianggap sebagai kebijakan terbaik untuk mengurangi risiko bahaya bagi anak-anak.
Alasan Perubahan: Kasus Gugatan terhadap OpenAI
Pengumuman OpenAI datang setahun setelah perusahaan mengakui adanya kegagalan sistem terkait penanganan konten sensitif. Pada Agustus lalu, keluarga Adam Raine, remaja 16 tahun dari California, menggugat OpenAI menyusul kematian putranya.
Dalam gugatan, orang tua menyatakan Adam kerap berinteraksi dengan ChatGPT selama lebih dari enam bulan dan menuduh chatbot ikut mendorong keputusan bunuh diri — misalnya dengan memberi saran metode bunuh diri dan membantu menyusun draf surat wasiat. Keluarga menilai teknologi itu menggantikan hubungan nyata Adam dengan keluarga dan teman.
Perdebatan Privasi vs. Keamanan
Rencana verifikasi usia menimbulkan pertimbangan etis dan teknis. Altman sendiri mengakui bahwa langkah ini berarti pengorbanan privasi bagi sebagian pengguna dewasa, namun menegaskan perlunya perlindungan ekstra untuk pengguna anak-anak.
OpenAI mengatakan akan melanjutkan dialog dengan para ahli untuk meminimalkan dampak negatif sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna muda.
Langkah OpenAI ini menandai upaya lebih jauh perusahaan teknologi untuk menyeimbangkan inovasi produk AI dengan tanggung jawab perlindungan pengguna, khususnya anak-anak — sebuah isu yang diperkirakan akan menjadi semakin penting di era interaksi manusia dengan agen kecerdasan buatan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















