
Guru dituntut bertransformasi dari sekedar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran interaktif. Sementara itu, beban administratif guru sudah sangat berat, sehingga tanpa dukungan nyata ada risiko perangkat canggih hanya berfungsi sebagai hiasan mahal di sudut kelas.
Disisi lain digitalisasi pendidikan juga terkait erat dengan budaya digital yang lebih luas. Pakar literasi digital Gun Gun Siswadi mengingatkan bahwa sekitar 70 persen anak Indonesia aktif menggunakan internet, tetapi kebanyakan tanpa pendampingan orang tua. Kondisi ini menghadirkan risiko distraksi, kecanduan layar, bahkan paparan konten negatif.
Selain itu digitalisasi pendidikan tidak cukup berhenti pada pengadaan perangkat, tetapi juga harus disertai literasi digital yang kuat bagi siswa, guru, maupun orang tua. Pemerintah pun mengakui tantangan terbesar ada pada kesenjangan antarwilayah dan kesiapan guru, bukan semata-mata pada penyediaan perangkat.
Oleh karena itu, digitalisasi seharusnya dipandang bukan hanya sebagai proyek teknologi, melainkan sebagai upaya membangun budaya belajar baru. Program percontohan di berbagai wilayah, termasuk di daerah terpencil, bisa menjadi langkah awal untuk memetakan kebutuhan dan mengukur efektivitas.
Guru perlu mendapat pelatihan berkelanjutan serta dukungan komunitas belajar agar dapat bereksperimen dan berinovasi. Orang tua juga harus dilibatkan, karena pembiasaan literasi digital tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut di rumah.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan adanya evaluasi terbuka apakah penggunaan IFP benar-benar meningkatkan kualitas belajar, atau hanya menambah daftar panjang proyek digitalisasi yang kurang berdampak nyata.
Bagaimanapun kehadiran IFP patut diapresiasi sebagai langkah maju dalam pendidikan Indonesia. Tetapi, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan layar di ruang kelas, melainkan kesiapan seluruh ekosistem Pendidikan meliputi guru yang terampil, siswa yang terarah, orang tua yang terlibat, dan infrastruktur yang mendukung.
Teknologi hanyalah alat, bisa menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih setara dan berkualitas, atau justru sekedar simbol modernitas tanpa makna. Kini tantangannya adalah menjadikan digitalisasi bukan hanya impian yang dipantulkan layar, tetapi sebuah kenyataan yang benar-benar membentuk masa depan bangsa.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















