Fenomena Maraknya Penolakan Sirene ‘Tot-tot, Sosiolog IPB University Ingatkan Ancaman Civil Disobedience

Bentuk penyalahgunaan yang sering ditemui antara lain penggunaan untuk aktivitas nondarurat, pemakaian yang terlalu sering, cara berkendara agresif dan intimidatif, membahayakan pengguna jalan lain, serta menegaskan privilese elite.

Minimnya penegakan hukum membuat pelanggaran berulang dan semakin mengikis kepercayaan publik terhadap sistem darurat. “Yang kini membahayakan, respons publik saat mendengar sirene menjadi skeptis,” ucap Dr Ivanovich.

Dijelaskannya, penggunaan sirene dan strobo yang tidak tepat telah berdampak pada turunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem darurat. Selain itu, muncul resistensi terhadap instruksi petugas, hingga meningkatnya ketegangan horizontal di jalan raya. Situasi inilah, sebut Dr Ivanovich, yang akhirnya berpotensi membentuk civil disobedience atau pembangkangan sipil.

BACA JUGA :  Resep Capcay Goreng Udang ala Restoran, Lezat dan Bergizi

“Pengguna jalan yang selama ini terjebak macet kini menguatkan solidaritas publik dan kesadaran kolektif, hingga akhirnya membentuk norma baru kesetaraan posisi di jalan raya. Di pihak lain, elite pun mulai menahan diri, setidaknya dalam beberapa minggu ke depan,” terangnya.

BACA JUGA :  4 Cara Simpel Membersihkan Minyak Goreng Bekas agar Tetap Jernih dan Aman Dipakai Lagi

Dr Ivanovich menilai, penolakan publik ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, lahir mekanisme kontrol sosial yang efektif untuk mendorong akuntabilitas dan kesetaraan. Namun di sisi lain, ada risiko mengganggu tatanan sosial dan membahayakan keselamatan publik jika tidak disertai solusi kebijakan yang jelas

“Sirene dan strobo harus digunakan terbatas sesuai undang-undang. Tanpa itu, resistensi publik akan terus menguat,” pungkasnya

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Ilham Ariyansyah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================