
“Kalau kita flashback, pikiran kita langsung kembali ke masa itu. Ada catatan dan pembelajaran tersendiri,” ungkapnya.
Di sisi lain, Bima menilai dokumentasi dalam bentuk cetak memiliki daya simpan dan nilai historis lebih kuat dibandingkan digital.
“Hari ini serba digital, serba mudah. Tapi di rumah saya, yang tersisa justru foto-foto cetak. Foto kampanye 2012 misalnya, itu masih ada. Sementara yang digital sering sulit ditemukan,” jelasnya.
Bima juga mengapresiasi langkah PFI Bogor yang mengkurasi sekaligus mengarsipkan momen penting secara profesional. Lokasi pameran di Alun-alun Kota Bogor dinilainya sangat tepat karena memberikan akses yang luas bagi masyarakat.
“Kalau di mal mungkin aksesnya berbeda. Tapi kalau di alun-alun, semua warga bisa menikmatinya,” pungkasnya.
Wartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















