
Eksperimen itu membuktikan bahwa prinsip kuantum juga bisa berpengaruh pada sistem berskala besar dalam kondisi tertentu.
Temuan ini menjadi dasar penting bagi pengembangan teknologi seperti komputer kuantum, kriptografi kuantum, hingga sensor kuantum.
“Sungguh luar biasa bagaimana mekanika kuantum yang berusia satu abad terus memberi kejutan baru. Ini sangat berguna, karena mekanika kuantum adalah fondasi dari semua teknologi digital,” ujar Olle Eriksson, ketua Komite Nobel Fisika.
Potensi dan Tantangan Teknologi Kuantum
Komputer kuantum diyakini mampu memecahkan perhitungan rumit yang tidak mungkin ditangani komputer konvensional. Dalam beberapa kasus, perhitungan yang butuh jutaan tahun di komputer tradisional dapat diselesaikan jauh lebih cepat oleh komputer kuantum.
Teknologi ini diharapkan dapat membantu menghadapi tantangan besar dunia, termasuk perubahan iklim.
Namun, pengembangannya juga menghadapi hambatan, terutama dalam meningkatkan akurasi chip serta menentukan jadwal penerapan komersial yang masih menjadi perdebatan.
Profil Singkat Para Pemenang
- John Clarke: Lahir di Inggris, kini profesor di Universitas California, Berkeley.
- Michel Devoret: Profesor di Universitas Yale dan Universitas California, Santa Barbara; juga ilmuwan utama di Google Quantum AI.
- John Martinis: Profesor Universitas California, Santa Barbara; pernah memimpin Google Quantum AI hingga 2020 dan memimpin tim yang pada 2019 mengklaim capaian “supremasi kuantum”.
Hadiah Nobel Fisika 2025 diberikan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia. Para pemenang akan berbagi hadiah sebesar 11 juta krona Swedia atau sekitar USD 1,2 juta.
Sejak pertama kali dianugerahkan pada 1901, Nobel Fisika selalu menjadi salah satu penghargaan paling prestisius di bidang ilmu pengetahuan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














