
“Kami sudah edarkan daftar vendor penyedia alat rapid test resmi. Ada sekitar 10 hingga 12 vendor nasional yang akan memenuhi kebutuhan di seluruh satuan layanan,” kata Dadan.
BGN telah melakukan uji coba di 10 SPPG percontohan. Hasilnya akan menjadi dasar pelaksanaan nasional secara serempak. Tes akan mencakup seluruh elemen, baik penerima layanan maupun petugas dapur dan distribusi.
“Rapid test adalah langkah preventif untuk menjaga mutu layanan. Ini bagian penting dari sistem pengawasan gizi nasional yang berkelanjutan,” tegasnya.
Selain itu, BGN melibatkan 5.000 juru masak profesional dari International Chef Association yang akan diterjunkan ke seluruh SPPG di Indonesia. Mereka akan mendampingi proses mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga pengemasan makanan.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah telah menetapkan alokasi anggaran sebesar Rp 335 triliun untuk tahun 2026. Anggaran ini terdiri dari Rp 268 triliun dana pokok dan tambahan Rp 67 triliun untuk memperluas cakupan program.
“Transformasi sistem gizi ini bukan sekadar bagi makanan. Ini investasi jangka panjang untuk kesehatan, kecerdasan, dan ketahanan generasi masa depan,” ujar Dadan.
Konsolidasi regional di Sentul tersebut dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten sebagai bagian dari penguatan sistem layanan gizi nasional. (CR4)
Editor : Bas
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















