
BOGORTODAY.COM – Israel kembali melancarkan serangan udara ke Rafah, Jalur Gaza, pada Minggu (19/10/2025), saat gencatan senjata dengan Hamas masih berlangsung.
Media Israel melaporkan sebagian besar serangan ini diarahkan ke wilayah selatan Gaza dan disebut sebagai “serangan udara terbatas”.
Militer Israel menuduh Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya difasilitasi oleh Amerika Serikat.
“Kami akan terus menindak setiap ancaman langsung yang membahayakan pasukan Israel,” ujar pernyataan resmi militer.
Pada Jumat sebelumnya, militer Israel menyebut beberapa “teroris” melepaskan tembakan ke arah pasukan di Rafah tanpa menimbulkan korban.
Serangan udara balasan kemudian dilakukan terhadap kelompok bersenjata di Khan Younis, wilayah selatan Gaza.
Gencatan senjata yang dimulai awal Oktober tersebut bertujuan membuka jalan bagi bantuan kemanusiaan dan upaya rekonstruksi di Gaza. Namun, kedua pihak saling tuduh melakukan pelanggaran dalam beberapa hari terakhir.
Tentara Korea Utara Ditangkap Usai Menyeberang ke Korea Selatan
Militer Korea Selatan menangkap seorang tentara Korea Utara (Korut) yang menyeberangi garis perbatasan demarkasi militer (MDL) pada Minggu (19/10/2025).
“Militer kami berhasil mengamankan seorang tentara Korea Utara yang melintasi garis tengah MDL pada Minggu pagi,” ungkap Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) dalam pernyataannya.
Militer Korsel mengatakan pihaknya sempat melacak pergerakan tentara tersebut sebelum akhirnya ditangkap tanpa perlawanan.
Belum diketahui alasan pasti di balik tindakan itu, namun pelarian dari Korea Utara bukan hal langka. Sejak berakhirnya Perang Korea 1950-an, puluhan ribu warga Korut diketahui melarikan diri ke Korsel, sebagian besar melalui China dan negara ketiga sebelum tiba di Seoul.
Aksi Protes “No Kings” Guncang Amerika Serikat
Ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan di lebih dari 50 negara bagian pada Sabtu (18/10/2025) dalam aksi bertajuk “No Kings”, yang memprotes kebijakan Presiden Donald Trump.
Para demonstran mengecam apa yang mereka sebut sebagai “gaya pemerintahan otoriter” Trump, termasuk kebijakan imigrasi yang keras dan serangan terhadap media serta lawan politik.
Beberapa spanduk bertuliskan “Protect Democracy” dan “Abolish ICE” (hapus badan imigrasi ICE) mewarnai aksi di berbagai kota besar.
Partai Republik menanggapi protes tersebut dengan menyebutnya sebagai “aksi benci Amerika” dan menilai kebijakan Trump justru memperkuat keamanan nasional.
Aksi ini menambah daftar panjang gelombang demonstrasi yang melanda AS menjelang pemilihan presiden mendatang, di tengah meningkatnya ketegangan politik dan isu hak asasi manusia.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















