5 Kota di Asia yang Diakui UNESCO sebagai City of Gastronomy

Hidangan seperti minchi dan African chicken menjadi simbol warisan kolonial yang kaya rasa. Selain menjaga kuliner klasik, Makau juga aktif berinovasi dengan teknik modern seperti gastronomi molekuler serta mendorong penggunaan bahan lokal yang berkelanjutan.

Event besar seperti International Cities of Gastronomy Fest dan inisiatif Step Out, Experience Macao’s Communities mengangkat restoran lokal autentik ke panggung dunia.

Kombinasi antara warisan, kreativitas, dan komitmen lingkungan menjadikan Makau salah satu kota kuliner paling menarik di Asia.

  1. Phetchaburi (Thailand)

Dikenal sebagai “Kota Tiga Rasa”, Phetchaburi di Thailand meraih pengakuan UNESCO karena kekayaan kulinernya yang berakar pada tradisi dan keberlanjutan.

Kota ini terkenal dengan perpaduan rasa asin, manis, dan asam dari bahan-bahan lokal seperti garam laut, gula aren, dan jeruk nipis khas.

BACA JUGA :  HGB Kedaluwarsa Sejak 2017, Petani Geruduk BPN Kabupaten Bogor

Kuliner Phetchaburi merupakan hasil perpaduan resep kerajaan dengan pengaruh Mon dan Tionghoa. Hidangan ikonik seperti Khao Chae — nasi yang direndam air bunga dan disajikan dengan lauk tradisional — mencerminkan kehalusan budaya kuliner Thailand.

Kota ini juga menerapkan konsep farm-to-fork, yaitu bahan segar langsung dari petani ke meja makan. Setelah 17 tahun menjaga keaslian kuliner dan lingkungan, Phetchaburi akhirnya diakui UNESCO pada tahun 2021.

  1. Usuki (Jepang)

Kota Usuki di Prefektur Ōita, Jepang, masuk daftar UNESCO berkat warisan kuliner fermentasinya yang telah berusia lebih dari 400 tahun.

Usuki dikenal sebagai produsen barley miso terbesar di dunia dan pusat pembuatan miso serta kecap Jepang berkualitas tinggi.

Tradisi fermentasi di Usuki didukung oleh air murni dan lingkungan alami yang ideal, memungkinkan produksi berkelanjutan tanpa meninggalkan metode tradisional.

BACA JUGA :  Setelah Dicopot dari Kepala BGN, Ini Rincian Harta Kekayaan Dadan Hindayana

Produk seperti miso, kecap, sake, dan shochu bahkan digunakan dalam makanan sekolah — menanamkan nilai budaya sejak dini.

Komitmen terhadap pertanian organik, penggunaan kompos alami, dan pendidikan kuliner memperkuat posisi Usuki sebagai kota gastronomi berkelanjutan di Jepang. Melalui festival, tur pabrik, dan acara budaya, kota ini terus merayakan identitasnya sebagai “kota fermentasi” yang mendunia.

Kelima kota ini membuktikan bahwa gastronomi bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang cerita, tradisi, dan keberlanjutan.

Dari laksa Kuching hingga miso Usuki, kuliner menjadi bahasa universal yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan — menjaga budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================