
“Kita berduka atas peristiwa di Al-Khoziny. Namun di balik duka itu, ada pesan penting: membangun rumah ibadah dan pesantren bukan sekadar mendirikan bangunan, tetapi membangun peradaban,” kata Prof. Ilfi.
Lebih lanjut, Prof. Ilfi menjelaskan bahwa eco-teologi menekankan prinsip bahwa setiap pembangunan merupakan bagian dari amanah Allah yang harus dijalankan dengan ilmu, cinta, dan tanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa tragedi seperti di Al-Khoziny bukan semata akibat kelalaian teknis, melainkan mencerminkan perlunya kesadaran teologis baru—bahwa pembangunan fisik juga merupakan bagian dari tauhid praksis, yakni kesatuan antara iman dan tindakan nyata.
“Kita tidak bisa memisahkan spiritualitas dari profesionalitas. Amanah membangun pesantren dan tempat ibadah adalah bagian dari tauhid praksis—kesatuan antara iman, ilmu, dan amal,” tegas Prof. Ilfi.
Penobatan ini menjadi simbol penting dalam memperkuat nilai-nilai Islam hijau (green Islam) yang menempatkan kelestarian alam dan kesejahteraan manusia sebagai satu kesatuan ibadah.
Dengan gelar “Bapak Eco-Teologi Indonesia”, Prof. Nasaruddin Umar diharapkan terus menginspirasi umat Islam untuk menjadikan keimanan sebagai kekuatan dalam menjaga bumi dan kemanusiaan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















