
Gagasan impor sapi dari Afrika Selatan sebenarnya bukan hal baru. Pada 2023, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut Indonesia berencana mengimpor 50.000 ekor sapi dari Afrika Selatan.
Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor sapi dari Australia, yang selama ini menjadi pemasok utama Indonesia.
Namun, rencana itu belum terealisasi hingga akhir masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kini, di era pemerintahan Prabowo, inisiatif tersebut kembali dihidupkan dengan pendekatan yang lebih konkret melalui kerja sama langsung antar-pemerintah.
Kebijakan membuka keran impor ternak juga diharapkan memperkuat pasokan bahan baku untuk program Makan Bergizi Gratis, salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Program ini membutuhkan pasokan susu dan daging dalam jumlah besar untuk mendukung kebutuhan gizi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia.
Karena itu, pemerintah menargetkan impor sapi perah hingga 250 ribu ekor pada tahun ini, sebagai bagian dari rencana jangka panjang mendatangkan 1 juta ekor sapi hingga 2029.
Menurut data yang disampaikan dalam pertemuan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) antara Indonesia dan Afrika Selatan, Selasa (21/10/2025), Afrika Selatan memiliki stok 13 juta ekor sapi siap jual.
Sementara Indonesia setiap tahunnya mengimpor sekitar 1,2 juta ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Dengan potensi besar tersebut, kerja sama baru ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan Indonesia dan membuka peluang investasi di sektor peternakan.
“Kerja sama ini tidak hanya soal impor, tapi juga membuka peluang transfer teknologi dan investasi di bidang peternakan,” ujar Sugiono menutup keterangannya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















