BOGORTODAY.COM – Sejumlah kota besar di India diselimuti kabut asap tebal pada Rabu (22/10/2025) pagi, sehari setelah warga merayakan festival Diwali secara besar-besaran.
Langit di berbagai wilayah tampak berwarna kuning kecokelatan, menandakan tingginya tingkat polusi udara akibat ledakan kembang api dan petasan sepanjang malam perayaan.
Menurut data dari perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, konsentrasi PM2.5 di ibu kota New Delhi tercatat mencapai 40 kali lipat di atas batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kabut Asap Tebal Selimuti Langit India
Foto dan video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana pagi yang suram di New Delhi, Mumbai, dan beberapa kota besar lainnya.
Jarak pandang menurun drastis, sementara warga tampak mengenakan masker tebal untuk beraktivitas di luar rumah.
Kondisi ini terjadi setelah jutaan warga India menyalakan petasan dan kembang api sebagai bagian dari tradisi Diwali, festival keagamaan umat Hindu yang melambangkan kemenangan cahaya atas kegelapan dan kebaikan atas kejahatan.
Namun, aktivitas tersebut secara rutin memperparah krisis polusi udara tahunan di India, khususnya di kawasan perkotaan padat seperti New Delhi.
Petasan Sumbang Polutan Berbahaya
Petasan dan kembang api yang dinyalakan dalam skala besar melepaskan oksida sulfur, oksida nitrogen, serta logam berat berbahaya ke atmosfer. Kombinasi bahan kimia ini membentuk partikel halus PM2.5 yang bisa masuk ke paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan serius.
Masalah polusi udara di India semakin parah pada musim dingin, ketika udara dingin menahan polutan di lapisan bawah atmosfer. Kondisi ini diperburuk oleh pembakaran lahan pertanian di wilayah sekitar New Delhi oleh para petani untuk menyiapkan lahan tanam baru.
Larangan Petasan Tak Efektif
Pemerintah India sebenarnya telah mencoba menekan polusi dengan melarang total pembuatan, penjualan, dan penggunaan petasan di New Delhi pada 2020. Namun, larangan tersebut sulit ditegakkan secara konsisten.
Tahun ini, Mahkamah Agung India hanya memperbolehkan penggunaan petasan “hijau”, yang diklaim menghasilkan emisi lebih rendah. Meski begitu, banyak warga masih menggunakan petasan biasa karena minimnya pengawasan dan penegakan hukum.
“Dari tahun ke tahun, keadaan semakin memburuk,” ujar Anushka Singh, salah satu warga New Delhi.
“Setiap kali Diwali tiba, tenggorokan saya gatal, mata memerah, dan rasanya sakit untuk bernapas,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah India dapat menerapkan kebijakan yang lebih tegas dan efektif, mengingat data polusi udara yang terus menunjukkan tren memburuk setiap tahunnya.
Krisis Udara Terburuk di Dunia
New Delhi selama bertahun-tahun dikenal sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Pada musim dingin, indeks polusi udara di kota tersebut kerap berada pada level “berbahaya” bagi kesehatan manusia.
Organisasi kesehatan internasional berulang kali memperingatkan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara tingkat tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker paru-paru, dan gangguan pernapasan kronis.
Meski festival Diwali merupakan bagian penting dari budaya dan tradisi India, banyak pakar menyerukan agar perayaan dilakukan dengan lebih ramah lingkungan, tanpa mengorbankan kesehatan publik dan kualitas udara.
“Kemenangan cahaya atas kegelapan seharusnya tidak berarti mengorbankan udara bersih,” tulis seorang aktivis lingkungan di media sosial.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














