Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)
PENULIS sangat prihatin karena menurut data perkiraan dari organisasi kesehatan dunia (WHO), Indonesia menempati peringkat pertama di dunia untuk pria perokok aktif, dengan prevalensi mencapai sekitar 73,2% pada tahun 2025.
Data ini juga menunjukkan Indonesia pada 2025 ada sekitar 73,2% pria di Indonesia yang berusia di atas 15 tahun diperkirakan merokok. Perbandingan global angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain seperti Yordania (58,6%) dan Timor-Leste (54,5%).
Dampak kesehatan merokok sangat berisiko menyebabkan kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, dan gangguan pernapasan.
Perokok anak-anak prevalensi perokok juga meningkat di kalangan anak-anak, dengan sekitar 7,4% perokok berusia 10-18 tahun pada tahun 2023. Dan ini terbukti kan beberapa hari yang lalu ada kasus yang viral seorang Kasek yang menampar muridnya karena ketahuan merokok di sekolah.
Menurut penulis penyebab Indonesia tinggi perokoknya sehingga mendapat peringkat ke satu se dunia menurut WHO adalah karena faktor budaya. Inilah budaya di masyarakat Indonesia yang menyebabkan banyaknya perokok, yaitu:
Adanya budaya uang rokok di masyarakat, misal jika kita menyuruh seseorang untuk mengerjakan sesuatu, maka kita akan berkata,”Terima kasih ya ini uang rokoknya,”. Budaya uang rokok ini mudah menyebar di masyarakat, sehingga hampir semua kegiatan masyarakat memakai istilah uang rokok ini.
Jika ada hajatan di masyarakat, baik itu ada acara tahlil, syukuran, kondangan, akikah, pindahan rumah dan lain-lain tuan rumah juga menyediakan rokok yang ditaruh di gelas untuk jamuan selain makanan serta minuman.
Bahkan wong cilik seperti kaum buruh, tukang becak, ojek, sopir, pemulung dan lain-lain, ada slogan yang terkenal yaitu,”Tidak makan gak apa-apa asal bisa merokok,” weleh-weleh ngeri amat slogannya.
Sementara dikalangan anak muda ada yang bilang,”Putus cinta tidak apa-apa, asal jangan putus merokok,”. Ini juga sama parahnya, seperti slogan sebelumnya.
Ada orang tua yang menyuruh anaknya yang masih kecil atau pelajar untuk beli rokok di warung. Banyak juga orang tua dan dewasa yang merokok di depan anak kecil atau pelajar. Dan jika kita mau jujur, banyak di pinggir jalan, anak-anak pelajar masih memakai seragam sekolah pada nongkrong dengan santai sambil merokok .
Ada juga budaya yang sepertinya bijaksana, tapi tetap saja salah, yaitu,”Saya sebetulnya tidak merokok, saya merokok jika ada tamu untuk menghormati tamu tersebut,”.
Itulah beberapa budaya masyarakat Indonesia yang menyebabkan semakin hari semakin banyak jumlah perokok di Indonesia dan itu terbukti dengan laporan WHO yang menempatkan Indonesia rangking ke 1 jumlah perokok terbanyak di Indonesia. Ayo dari sekarang kita rubah budaya yang tidak baik tersebut. Jayalah Indonesiaku.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















