
Ia menilai, aktivasi situs Banten Lama akan membuka peluang besar bagi pengembangan wisata budaya dan edukasi, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Sasaka Cibanten: Merayakan Warisan dan Keberagaman Budaya
Kementerian Kebudayaan RI melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Banten dan Jakarta juga tengah menggelar kegiatan Sasaka Cibanten dengan tema “Naritis Cai, Mapag Kabantenan”.
Kegiatan ini terbagi dalam tiga rangkaian besar, dan tahap terakhirnya berlangsung di Benteng Speelwijk, Keraton Kaibon, dan Vihara Avalokitesvara, Banten Lama.
Fadli Zon yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan rasa syukur karena perayaan kali ini bukan hanya menegaskan keberagaman budaya di Banten, tetapi juga menjadi momentum penting untuk merekonstruksi sejarah Nusantara.
“Penandatanganan monumen jalur masuk Cornelis de Houtman menjadi awal dari usaha untuk merekonstruksi sejarah. Banten ini wilayah penting, pelabuhan besar tempat perdagangan dan akulturasi budaya,” ucapnya.
Museum Sebagai Pusat Edukasi Sejarah
Lebih lanjut, Fadli Zon menjelaskan bahwa di sekitar Keraton Surosowan kini telah didirikan museum yang menampilkan berbagai artefak hasil temuan dari kawasan Banten Lama. Museum tersebut diharapkan menjadi pusat edukasi dan pelestarian bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kita ingin menghidupkan ekosistem budaya di Banten. Selain menjadi pembelajaran sejarah, kita juga ingin menjadikannya sebagai wisata budaya dan ekonomi budaya untuk menggerakkan masyarakat sekitar,” tutup Fadli.
Banten yang dulunya menjadi pusat perdagangan dan peradaban besar kini perlahan bangkit kembali.
Dengan upaya pelestarian, pemugaran, dan edukasi budaya, kawasan Banten Lama diharapkan bisa bersinar lagi sebagai ikon wisata sejarah dan kebanggaan Nusantara.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















